Fakta Unik Psikologi Remaja dan Cara Menghadapinya

Memahami psikologi remaja adalah kunci berkomunikasi dengan mereka

Masa remaja adalah fase peralihan dari anak-anak menuju tahap dewasa, sehingga remaja seringkali berani mencoba sesuatu yang baru sebagai upaya dalam pencarian jati diri. Karenanya fase remaja seringkali dicap sebagai masa kenakalan anak-anak. 

Dibalik itu semua, ada fakta menarik mengenai perubahan perilaku dan psikologi remaja. Dengan mengetahui fakta berikut ini bisa membantu orang tua bahkan remaja dalam lebih mengenali dirinya sendiri. 

Perubahan yang Terjadi Saat Remaja

WHO menetapkan remaja adalah seseorang yang berada dalam rentang usia 10-19 tahun. Menurut Peraturan Meteri Kesehatan RI Nomor 25 tahun 2014, seseorang yang dikategorikan remaja adalah mereka yang berusia 10-18 tahun. Berbeda halnya dengan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana (BKKBN) yang menetapkan kategori remaja adalah usia 10-24 tahun dan belum menikah. 

Meskipun definisi remaja berbeda-beda, perubahan psikologi remaja disebabkan oleh beberapa hal yang pasti mulai dari pengaruh hormon hingga perubahan pada beberapa bagian otak seperti amigdala, korteks frontal, dan sel saraf. 

Berikut ini fakta mengenai psikologi remaja yang harus diketahui:

  1. Impulsif

Otak remaja mengalami peningkatan materi dan mereka mulai memiliki kemampuan kompuasi dan pengambilan keputusan. Tapi disisi lain, pengambilan keputusan mereka dipengaruhi oleh emosi karena sistem limbik (bagian otak yang mengatur emosi) lebih aktif daripada korteks prefrontal yang bertanggung jawab terhadap pikiran rasional. Karena hal inilah remaja cenderung berperilaku impulsif meskipun mereka tahu alasan dibalik perilaku tersebut. 

  1. Tantrum seperti anak-anak

Ketika seorang anak memasuki masa remaja, mereka akan mendapatkan banyak keterampilan baru terutama bersosialisasi dan pemikiran abstrak. Untuk melatihnya, remaja seringkali menggunakan orang tua, yang lebih stabil, untuk membantu mereka mengekspresikan diri dengan lebih baik. 

Tantrum adalah salah satu cara mereka mengekspresikan diri karena mereka sulit fokus pada ide abstrak dan memahami sudut pandang orang lain. Ketika remaja tantrum, jangan anggap mereka sebagai anak nakal dan tidak mau menurut. Sebaliknya bantu mereka dengan tetap tenang, mendengarkan pendapat mereka, dan memberikan contoh yang baik.

  1. Lebih nyaman dengan teman, tapi tetap butuh orang tua

Kebanyakan orang lebih nyaman berkumpul dengan kelompok sebaya, begitu pula dengan remaja. Remaja butuh berbaur dengan teman-temannya untuk melatih kemampuan sosialnya. Walau begitu mereka tetap membutuhkan orang tua mereka. 

Tapi seringkali orang tua memisahkan mereka dari teman-temannya karena menganggap kelompok peremanan itu membawa dampak negatif kepada mereka. Akan lebih baik jika orang tua bisa menjadi pendengar yang baik dan berkomunikasi dengan mereka. Hal ini juga bisa jadi salah satu cara agar anak terhindar dari hal yang buruk. 

  1. Menganggap diri sebagai pusat dunia

Selama remaja, perubahan hormon saat pubertas memicu produksi reseptor oksitosin lebih banyak. Oksitosin bertanggung jawab terhadap ikatan sosial dan terkait dengan perasaan kesadaran diri. Semakin banyak reseptor membuat seorang remaja lebih sadar akan keberadaan dirinya sendiri dan membua mereka seperti pusat dunia. Karena inilah mereka cenderung egois. 

  1. Rentan terlibat dalam perilau berisiko

Remaja, terutama laki-laki, sering merasa tidak aman. Otak mereka juga hanya terhubung untuk mencari hadiah. Mereka senang ketika mendapatkan reward berupa pujian atau barang. Hal ini membuat mereka lebih kompetitif dan senang mengambil risiko. 

Namun karena mereka belum terlalu memahami batasan, mereka rentan terlibat dalam perilaku berisiko seperti berkelahi, mencoba-coba rokok atau minuman keras, dan lainnya. Untuk menghadapinya, orang tua harus bisa memposisikan diri sebagai teman mereka yang bisa membantu membatasi perilaku mereka. 

Catatan

Perkembangan psikologi remaja terlihat sangat kompleks, hal ini juga ditandai dengan banyak orang tua yang bingung mengambil sikap saat berhadapan dengan anak remajanya. Memarahi, membatasi gerak, atau mencoba mengubah mereka adalah kesalahan fatal yang bisa membuat mereka semakin menjauh. 

Cara terbaik adalah jadilah pendengar yang baik bagi mereka dan sampaikan pendapat orang tua dengan cara yang lembut namun tegas. Jadilah teman bagi mereka, sehingga mereka bisa lebih nyaman dan terbuka kepada orang tua.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *