Efektifkah Vaksin Typhoid Cegah Tifus?

Tifus atau demam tifoid merupakan salah satu penyakit yang sudah tidak asing di telinga. Penyakit ini umumnya terjadi di lingkungan yang memiliki sanitasi dan kebersihan yang buruk, hingga minimnya akses untuk mendapatkan air bersih. Penyakit yang disebabkan oleh infeksi bakteri salmonella typhii ini dapat menular dengan cepat. Penularan bisa melalui makanan atau minuman yang sudah terkontaminasi. Lantas, bagaimana cara mencegah tifus? Apakah benar vaksin typhoid efektif mencegah tifus?

Vaksin typhoid tifus di negara kita sebenarnya masuk ke dalam jadwal imunisasi anak. Vaksin tifus amat dianjurkan bagi Si Kecil yang berusia dua tahun, kemudian diberikan kembali tiap tiga tahun sekali. 

Di samping itu, menurut ahli di National Institutes of Health – MedlinePlus, pemberian vaksin ini juga perlu dilakukan sebelum berkunjung ke daerah yang menjadi endemik penyakit tifus. Selain itu, mereka yang bekerja di bidang kuliner seperti koki, juga dianjurkan untuk memperoleh vaksin tifus. 

Lalu, benarkah vaksin bisa dijadikan cara ampuh untuk mencegah penyakit tifus? Faktanya, menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), vaksin tifus sudah digunakan selama bertahun-tahun lamanya untuk mencegah penyakit ini. Singkat kata, menurut WHO vaksin tifoid adalah strategi yang efektif untuk pencegahan dan pengendalian tifus.

Meski begitu, pemberian vaksin tifus tidak menjamin 100 persen kebal terhadap bakteri penyebab tifus. Artinya, risiko untuk terserang tifus tetap ada, tapi gejala yang terjadi tidak separah gejala pada mereka yang belum mendapatkan vaksin.

Pada beberapa kasus, vaksin tifus bisa menimbulkan efek samping tertentu. Misalnya nyeri, bengkak di sekeliling area suntikan, mual, pusing, sakit perut, diare, hingga nyeri. 

Sebenarnya, vaksin bukan satu-satunya cara mencegah penyakit tifus. Meski terbilang efektif, tapi vaksin ini perlu dikombinasikan dengan pola dan kebiasaan hidup sehat agar penyakit ini menjauh. Misalnya, selalu menjaga kebersihan tangan hingga hindari mengonsumsi makanan atau sayuran mentah. 

Berakibat Fatal pada Anak-Anak

Coba tebak, kira-kira berapa banyaknya pengidap tifus secara global? Menurut catatan WHO, diperkirakan 11-20 juta orang mesti berhadapan dengan penyakit ini tiap tahunnya. Dari jumlah tersebut, 128.000 hingga 161.000 meninggal akibat penyakit menular ini. Hmm, bikin waswas kan? 

Bagaimana dengan di Indonesia? Meski datanya belum diperbarui, kita bisa mendapat gambaran mengenai penyakit Salmonellosis dari laporan Ditjen Pelayanan Medis Depkes RI. 

Di negara kita, salah satu spesies bakteri Salmonellosis yang sering menimbulkan masalah kesehatan penting, yaitu Salmonella typhi. Bakteri inilah biang keladi dari penyakit tifus. 

Pada tahun 2008, demam tifoid menempati urutan kedua dari 10 penyakit terbanyak dengan pasien rawat inap di rumah sakit di Indonesia, dengan jumlah kasus 81.116 dengan proporsi 3,15 persen. Urutan pertama ditempati oleh diare dengan jumlah kasus 193.856 dengan proporsi 7,52 persen (Depkes RI, 2009).

Ingat, jangan sekali-kali memandang sebelah mata penyakit ini. Pada beberapa kasus, penyakit ini bisa menimbulkan komplikasi, salah satunya robeknya saluran pencernaan. Kemudian, bakteri penyebab tifus juga bisa menyebar hingga rongga perut (peritoneum) atau kondisi yang disebut peritonitis. 

Nah, bila infeksinya menyebar dengan cepat melalui darah ke berbagai organ lainnya, maka dampaknya bisa makin berbahaya. Kondisi ini bisa menyebabkan berbagai organ berhenti berfungsi, bahkan menyebabkan kematian bila tak segera ditangani. 

Hal yang perlu ditegaskan, anak-anak adalah kelompok yang rentan terserang tifus. Alasannya, sistem imun mereka belum terbentuk dengan sempurna. 

Demikian penjelasan mengenai keefektifan vaksin typhoid dalam mencegah tifus. Semoga menambah wawasanmu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *