Ketahui 8 Efek Samping Antasida bagi Kesehatan Tubuh

Ketahui 8 Efek Samping Antasida bagi Kesehatan Tubuh

Bagi penderita asam lambung tentu sudah tidak asing dengan obat antasida. Obat ini biasanya memang dikonsumsi untuk meredakan gejala yang muncul karena gangguan asam lambung. Namun, antasida tidak boleh berlebihan. Sebab, ada beberapa efek samping antasida yang mungkin terasa jika berlebihan dan dikonsumsi sembarangan.

Antasida merupakan obat yang bisa mengobati GERD, gastritis, dispepsia, hingga nyeri ulu hati. Namun, pastikan agar melihat aturan pakai dan simak takaran dosisnya. Jangan sampai Anda mengonsumsi obat ini sembarangan dengan dosis berlebihan.

Efek Samping Antasida

Sebenarnya, antasida ini aman dikonsumsi dalam jangka waktu tertentu dan dalam dosis yang aman. Akan tetapi, akan ada berbagai efek samping antasida jika dikonsumsi secara berlebihan. Apa saja efek sampingnya? Simak selengkapnya berikut ini.

  1. Konstipasi atau Sembelit

Salah satu efek samping antasida jika dikonsumsi berlebihan adalah terjadinya konstipasi atau sembelit. Biasanya efek ini muncul jika yang Anda konsumsi obat antasida yang mengandung aluminium dan kalsium. Jika kondisi ini terjadi, maka sebaiknya Anda mengganti obat yang dikonsumsi dengan obat lain yang bisa diresepkan dokter.

  1. Munculnya Masalah Otot

Mengonsumsi obat antasida juga berisiko menyebabkan gangguan otot seperti otot berkedut dan nyeri otot. Biasanya, pasien akan merasakan tubuh lemah seluruh tubuh.

Kondisi ini terjadi karena dipengaruhi oleh kadar elektrolit dalam darah, seperti fosfor, magnesium, dan kalsium. Perubahan kadar elektrolit dalam darah ini membuat fungsi otot dan juga saraf jadi berefek negatif.

  1. Diare

Antasida juga bisa menyebabkan gangguan pencernaan seperti diare. Efek samping antasida yang satu ini biasanya dialami oleh pasien yang mengonsumsi antasida yang mengandung magnesium. Diare yang terjadi biasanya tidak berlangsung lama namun bisa kambuh kembali ketika pasien mengonsumsi antasida lagi.

  1. Risiko Batu Ginjal

Antasida yang mengandung kalsium berisiko membuat tubuh akan mengeluarkan mineral yang banyak melalui urine. Akan tetapi, meningkatnya jumlah pembuangan kalsium ini akan membuat mineral menumpuk di ginjal sehingga akan berisiko terjadinya pembentukan batu ginjal.

Batu ginjal ini akan membuat penderita merasa kesakitan di bagian punggung bawah. Selain itu, batu ginjal juga membuat urine berdarah serta menghambat aliran urine.

  1. Hiperkalsemia

Pasien yang mengonsumsi antasida kalsium bikarbonat juga bisa menyebabkan hiperkalsemia. Kondisi ini terjadi ketika menumpuknya kalsium dalam tubuh yang jika sudah berlebihan dapat mengganggu fungsi organ karena aliran darah terhambat. Selain itu, hiperkalsemia juga bisa memicu terjadinya kegagalan fungsi organ. Akan tetapi, menghentikan konsumsi antasida bisa membuat hiperkalsemia yang dialami tidak semakin memburuk.

  1. Mengalami Gangguan Pernapasan

Efek samping antasida lainnya adalah menyebabkan gangguan pernapasan. Efek samping ini terjadi jika pasien mengonsumsi antasida dengan kandungan natrium bikarbonat karena pH aliran darah menjadi naik alias basa.

pH aliran darah yang meningkat bisa membuat laju pernapasan jadi melambat. Akan tetapi, kondisi ini akan membuat pasien mengalami penumpukan karbon dioksida yang menyebabkan rasa kantuk dan letih.

  1. Risiko Infeksi

Antasida adalah obat untuk menetralkan asam lambung. Jika dikonsumsi berlebihan, akan membuat asam lambung menjadi netral yang berlebihan pula. Selain membantu mencerna makanan, asam lambung juga bisa melindungi tubuh dari bakteri yang ada dalam makanan yang dikonsumsi. 

Sehingga, jika asam lambung seseorang netral, maka, bakteri akan masuk ke dalam saluran pencernaan. Hal ini tentu bisa membuat sistem pertahanan tubuh jadi melemah. Selain itu, muncul pula penyakit lain seperti diare, gastroenteritis, hingga gangguan pencernaan bagian atas.

  1. Osteoporosis

Efek samping antasida dengan kandungan aluminium yaitu bisa menyebabkan osteoporosis. Sebab, antasida dengan kandungan aluminium bisa membuat tulang melemah akibat penurunan kadar kalsium dan fosfat pada tubuh.

Apa Bisa Orang Mati Hidup Lagi?

orang mati hidup lagi dari sisi medis

Anda mungkin pernah mendengar kata mati suri, kondisi dimana orang yang sudah mati hidup lagi. Ternyata terdapat istilah ilmiah dari kondisi ini, yaitu fenomena Lazarus. 

Fenomena Lazarus sendiri merupakan kasus yang sangat jarang terjadi, mungkin masih kurang laporan mengenai kondisi ini. Meskipun jarang terjadi, kondisi ini adalah kondisi yang nyata. 

Fenomena Lazarus, atau sindrom Lazarus, didefinisikan sebagai kembalinya sirkulasi spontan yang tertunda (ROSC) setelah CPR berhenti. Dengan kata lain, pasien yang dinyatakan meninggal setelah serangan jantung mengalami kembalinya aktivitas jantung secara mendadak.

Sindrom ini dinamai menurut Lazarus dari Betania, yang menurut Perjanjian Baru dari Alkitab, dihidupkan kembali oleh Yesus Kristus 4 hari setelah kematiannya. Hal ini pertama kali dilaporkan dalam literatur medis pada tahun 1982, dan istilah fenomena Lazarus pertama kali digunakan oleh Bray pada tahun 1993.

Sejak tahun 1982, ketika fenomena Lazarus pertama kali dideskripsikan dalam literatur medis, setidaknya terdapat 38 kasus orang mati hidup lagi yang dilaporkan. Menurut laporan tahun 2007 oleh Vedamurthy Adhiyaman dan rekannya, pada sekitar 82 persen kasus sindrom Lazarus hingga saat ini, ROSC terjadi dalam 10 menit setelah CPR dihentikan, dan sekitar 45 persen pasien mengalami pemulihan neurologis yang baik.

Bagaimana penjelasan medis atau ilmiah pada orang yang sudah mati dan hidup lagi? Sebenarnya apa yang menyebabkan fenomena Lazarus terjadi masih belum jelas, namun terdapat beberapa teori yang mendasarinya.

Beberapa peneliti berpendapat bahwa fenomena Lazarus mungkin disebabkan oleh penumpukan tekanan di dada yang disebabkan oleh CPR. Setelah CPR dihentikan, tekanan ini secara bertahap dapat dilepaskan dan jantung kembali bekerja.

Teori lain adalah tindakan obat tertunda yang digunakan sebagai bagian dari upaya resusitasi, seperti adrenalin. Ada kemungkinan bahwa obat yang disuntikkan melalui vena perifer tidak diberikan secara memadai secara terpusat karena aliran balik vena yang terganggu, dan ketika aliran balik vena membaik setelah menghentikan hiperinflasi dinamis, pemberian obat dapat berkontribusi pada kembalinya sirkulasi.

Hiperkalemia, kondisi dimana kadar kalium dalam darah Anda terlalu tinggi adalah penjelasan lain yang diusulkan untuk fenomena Lazarus, karena telah dikaitkan dengan ROSC yang tertunda.Karena sangat sedikitnya kasus sindrom Lazarus yang dilaporkan, mengungkap mekanisme atau penjelasan yang pasti di balik kondisi tersebut rumit. Namun satu hal yang mungkin terjadi adalah, orang yang mengalami fenomena Lazarus mungkin memang sebenarnya tidak pernah mati.

Pada tahun 2014 terdapat laporan dari seorang wanita berusia 80 tahun yang telah “dibekukan hidup-hidup” di kamar mayat rumah sakit setelah salah dinyatakan meninggal.

Pada tahun yang sama, Rumah Sakit New York diserang setelah salah menyatakan seorang wanita mati otak setelah overdosis obat. Wanita itu terbangun tak lama setelah dibawa ke ruang operasi untuk pengambilan organ. Kasus-kasus seperti ini menimbulkan pertanyaan, bagaimana mungkin secara keliru menyatakan seseorang telah mati? 

Terdapat dua jenis kematian yaitu kematian klinis dan kematian biologis. Kematian klinis diartikan sebagai tidak adanya denyut nadi, detak jantung, dan pernapasan, sedangkan kematian biologis diartikan sebagai tidak adanya aktivitas otak.

Melihat definisi ini, Anda mungkin berasumsi bahwa akan mudah untuk mengetahui kapan seseorang telah meninggal, tetapi dalam beberapa kasus, ternyata kematian tidak sesederhana itu. Terdapat sejumlah kondisi medis yang dapat membuat seseorang “tampak” mati. Sehingga kondisi dimana orang mati dan hidup lagi, ternyata benar-benar nyata.

Gejala dan Cara Mengobati Kista

ciri-ciri kista

Kista adalah sebuah kantong berisi cairan, gas atau bahan semipadat yang dapat muncul pada bagian tubuh manapun. Kondisi ini bisa terjadi pada beberapa bagian tubuh, seperti kulit, wajah hingga organ dalam seperti ginjal, rahim dan otak. Mengetahui ciri-ciri kista sangat diperlukan, hal ini akan berguna untuk menghilangkannya dari tubuh.

Jenis kista yang dikenal dalam dunia kedokteran terdapat ribuan, kebanyakan bersifat jinak meski sebagian memiliki potensi menjadi ganas. Kista pada umumnya muncul berupa benjolan, baik di atas maupun di bawah kulit, tak seperti penyakit lain karena kista sering kali muncul tanpa adanya gejala dan juga tidak diketahui penyebabnya.

Gejala Munculnya Kista

Perlu diketahui jika gejala utama kista adalah munculnya benjolan di bagian tubuh yang letaknya tergantung pada jenis kista yang dialami. Benjolan ini bisa muncul di wajah, leher, dada, punggung, kulit, telapak tangan hingga telapak kaki. Ukuran dari benjolan kista bervariasi dan biasanya kemunculannya disertai dengan beberapa ciri-ciri kista berikut ini.

  • Kulit di sekitar area kista berubah menjadi berwarna merah.
  • Munculnya infeksi yang memicu nyeri pada kista.
  • Benjolan pada umumnya mengeluarkan darah atau nanah dengan bau tidak sedap.
  • Rasa kaku dan kesemutan, khususnya pada bagian tubuh munculnya kista.
  • Mual dan muntah dalam beberapa waktu tertentu.
  • Demam yang dirasakan penderita.

Akan tetapi, gejala yang muncul juga bisa tergantung pada jenis kista yang dialami oleh penderita, beberapa jenis kista benjolan yang tidak normal bisa mudah diketahui oleh penderitanya karena benjolan tersebut muncul di bawah kulit. Seperti kista payudara, seseorang bisa menyadari kista ini dengan cara merabanya.

Sementara itu pada beberapa kasus penderita kista otak, penderita bisa mengalami gejala berupa sakit kepala dan gejala lainnya. Meski demikian, ada juga kista yang tidak menimbulkan gejala dan tidak diketahui hingga dilalukan tes pencitraan untuk mendeteksi kista tersebut.

Mengobati Kista

Sebelum dokter melakukan penanganan medis untuk mengobati kista, dokter akan mempertimbangkan beberapa faktor. Di antaranya seperti jenis kista, lokasi, infeksi pada kista dan efek samping yang ditimbulkan dari kista tersebut. Berikut beberapa cara yang bisa digunakan dokter untuk menghilangkannya.

  • Obat Kortikosteroid

Dokter akan menyuntikkan obat ini pada area yang muncul benjolan kista, fungsi obat ini adalah untuk mengurangi pembengkakan atau peradangan yang terjadi pada kista.

  • Obat Antibiotik

Pasien akan disarankan oleh dokter untuk mengonsumsi obat antibiotik, terutama jika kista yang muncul mengalami infeksi, selain itu obat antibiotik diberikan jika muncul indikasi pasien mengalami infeksi seksual menular.

  • Berendam

Berendam dengan menggunakan metode sitz bath merupakan prosedur medis yang memakai bak berisi air hangat dan dilakukan sebanyak tiga sampai empat kali dalam sehari. Metode ini sering digunakan untuk mengatasi kista bartolin dengan membuatnya menyusut dan menghilang.

  • Aspirasi

Cara ini dipakai untuk mengeluarkan cairan dari dalam kista, nantinya dokter akan menggunakan alat bantu berupa jarum yang kemudian ditusukkan ke dalam kista. Jarum tersebut akan menyerap cairan yang terdapat di dalam kista dan memasukkannya ke dalam tabung jarum suntik.

  • Operasi

Tindakan operasi dilakukan sebagai pilihan terakhir pengobatan bagi dokter dalam menangani kista, operasi yang dilakukan bisa berupa operasi kecil dan pembedahan besar. Ciri-ciri kista yang harus diobati dengan operasi adalah letaknya yang berada pada organ dalam tubuh yang sulit untuk dijangkau.

Bersin Setelah Makan, Apakah Wajar?

Bersin Setelah Makan, Apakah Wajar?

Bersin adalah reaksi alami tubuh Anda terhadap iritasi pada saluran pernapasan bagian atas, terutama hidung. Jika Anda sering bersin setelah makan, Anda mungkin bertanya-tanya bagaimana sesuatu di perut bisa mengiritasi hidung. Ternyata makan jenis makanan tertentu atau makanan yang sangat besar dapat menyebabkan iritasi hidung.

Saat Anda alergi terhadap sesuatu, seperti serbuk sari, sistem kekebalan Anda menciptakan respons perlindungan. Hal ini menyebabkan rinitis alergi. Rinitis adalah istilah medis untuk radang selaput lendir di hidung Anda. Peradangan ini menyebabkan bersin, sesak, dan pilek. Rinitis sering dipecah menjadi rinitis alergi dan non alergi. Jenis yang berbeda bergantung pada apakah itu disebabkan oleh alergi atau tidak.

Rinitis gustatory adalah jenis rinitis non alergi yang disebabkan oleh makan makanan tertentu, biasanya yang pedas atau panas. Minum alkohol juga dapat menyebabkan rinitis gustatory yang kambuh. Makanan umum yang memicu rinitis gustatory meliputi:

  1. Sup panas
  2. Wasabi
  3. Paprika pedas
  4. Kari
  5. Salsa
  6. Lobak pedas

Sementara rinitis gustatory biasanya dikaitkan dengan makanan panas atau pedas, jenis makanan lain dapat menyebabkan gejala bagi sebagian orang, sehingga menyebabkan Anda mengalami bersin setelah makan. Tidak ada obat untuk rinitis gustatory, karena biasanya tidak menyebabkan masalah kesehatan. Jika bersin Anda menjadi masalah, cobalah mencatat diary dan catat makanan mana yang membuat Anda bersin. Menghindari makanan tersebut dapat membantu Anda menghindari bersin setelah makan di kemudian hari.

Berikut beberapa strategi yang bisa Anda gunakan untuk menghindari bersin setelah makan. Ingatlah bahwa Anda tidak selalu dapat mencegah terjadinya bersin setelah makan. Namun, ada beberapa tips yang bisa mengurangi bersin, termasuk:

  • Menahan nafas sambil menghitung sampai 10, atau selama Anda bisa menahan nafas dengan nyaman. Hal ini membantu menghambat refleks bersin.
  • Menjepit pangkal hidung agar bersin tidak terjadi, hal ini memiliki efek yang sama seperti Anda menahan nafas.
  • Menghindari makanan yang diketahui menyebabkan bersin atau makanan yang membuat Anda alergi.
  • Menggunakan dekongestan yang dijual bebas (OTC), seperti pseudoefedrin, untuk mengurangi pembengkakan atau sensitivitas hidung yang dapat menyebabkan bersin setelah makan.
  • Semprotan hidung antihistamin OTC juga dapat membantu mengurangi timbulnya bersin setelah makan. Semprotan ini menghalangi pelepasan histamin, yang merupakan senyawa inflamasi yang dapat menyebabkan bersin.

Kebanyakan orang cenderung menganggap bersin sebagai reaksi dari menghirup bahan iritan yang “menggelitik” hidung, seperti serbuk sari, debu, bulu hewan peliharaan, parfum, jamur, polutan, atau asap. Tujuan dari hembusan udara pendorong yang dikeluarkan oleh bersin adalah untuk menghilangkan penyebab iritasi tersebut. Namun, bersin memiliki pemicu lain. Beberapa orang bersin sebagai respons terhadap udara dingin, minuman bersoda, makanan pedas seperti cabai atau peppermint, aktivitas seksual, olahraga, saat mencabut alis, atau saat muncul dari cahaya redup lalu menatap matahari atau cahaya terang lainnya.

Mekanisme rinitis gustatory belum sepenuhnya dipahami. Rinitis gustatory juga menjadi lebih umum terjadi seiring bertambahnya usia Anda. Meskipun bukan resiko kesehatan, bersin setelah makan bisa menjadi gangguan yang tidak menyenangkan. Sebaiknya pantau apa yang Anda makan untuk menghindari hal itu terjadi.

6 Bahaya Pod Vape Bagi Kesehatan Tubuh

Rokok elektrik sekarang memang tengah banyak digunakan karena disebut lebih sehat ketimbang rokok konvensional. Namun benarkah demikian? Apa saja bahaya pod vape yang perlu diketahui?

Pod vape merupakan salah satu tipe rokok elektrik yang digunakan untuk mengisap nikotin melalui corong yang terkoneksi ke body alat. Pod ini adalah generasi terbaru rokok elektrik dan didesain untuk menyediakan lebih banyak nikotin namun tenaga yang dibutuhkan lebih sedikit dibanding jenis rokok elektrik lainnya.

Bahaya Pad Vape

Memang, asap rokok dari pod vape ini tidak setajam aroma asap rokok biasa. Bahkan aromanya pun lebih beragam “rasa” sehingga bisa dengan mudah ditoleransi oleh hidung orang yang tidak merokok.

Sayangnya, pod vape tidak sesehat yang dibayangkan. Terdapat berbagai bahaya yang bahkan bisa mengancam jiwa penggunanya. Berikut penjelasannya.

  1. Dapat Meningkatkan Risiko Gangguan Paru

Memang, hingga kini belum ada penelitian yang menyebut kaitan langsung dan mendalam terkait bahaya rokok elektrik ini menyebabkan munculnya penyakit paru-paru.

Akan tetapi, pengguna pod yang mengalami penyakit ini dilaporkan terus bertambah jumlahnya. Menurut laporan dari CDC (Center of Disease Control) menyebut adanya peningkatan gangguan paru-paru yang dialami oleh pengguna pod, khususnya remaja dan dewasa muda.

Kondisi ini diyakini akibat kandungan cairannya. Mungkin juga karena alergi, iritasi terhadap bahan kimia yang digunakan, maupun reaksi imun tubuh terhadap uap bahan kimia yang dihisap melalui pod.

  • Mengganggu Kesehatan Gigi dan Mulut

Bahaya pod vape ini juga dapat memengaruhi kesehatan gigi dan mulut penggunanya. Menurut penelitian, permukaan gigi lebih rawan terhadap pertumbuhan bakteri akibat penggunaan pod ini.

Tidak hanya itu, rokok elektrik juga bisa memicu terjadinya iritasi dan peradangan gusi, mulut, hingga tenggorokan. Apapun yang mengandung nikotin sama-sama berisiko merusak sel dan juga jaringan mulut.

  • Meningkatkan Risiko Gangguan Jantung

Menurut hasil penelitian tahun 2019 lalu menyebut bahwa cairan pada rokok elektrik mengandung agen oksidasi, partikulat, aldehida, dan nikotin yang dapat menyebabkan terjadinya gangguan jantung hingga sistem peredaran darah jika dihisap.

Penggunaan rokok elektrik ini juga meningkatkan detak jantung penggunanya. Ada pula bahaya tekanan darah tinggi yang dalam jangka panjang dapat menyebabkan gangguan jantung. Jadi perlu berhati-hati sebelum memutuskan untuk menggunakan pod vape ini.

  • Pod Merusak Kesehatan Sel

Selain itu, bahaya pod vape bagi tubuh adalah dapat terjadi kerusakan pada DNA, stres oksidatif, mengalami disfungsi sel, serta mengganggu perkembangan otak, khususnya pada pengguna vape bernikotin bagi mereka yang berusia di bawah 25 tahun.

  • Menyebabkan Gangguan pada Janin

Penggunaan pod vape pada ibu hamil, baik pengguna aktif maupun pasif, dapat berisiko membahayakan janin dalam kandungannya. Sebab, perkembangan janin yang terpapar nikotin maupun zat berbahaya dari rokok elektrik dapat mengganggu perkembangannya dalam kandungan.

Selain itu, pada anak-anak, paparan nikotin juga bisa mengganggu perkembangan otaknya dan akan berdampak pada daya ingat anak.

  • Menyebabkan Ketagihan

Seperti halnya rokok tembakau, pod yang mengandung nikotin juga membuat penggunanya menjadi ketergantungan. Nikotin akan merangsang otak untuk melepaskan hormon dopamin dalam jumlah banyak dan memberikan efek ketergantungan.

Jadi, salah jika menganggap rokok elektrik dapat membantu Anda menghentikan rokok konvensional. Justru menyebabkan ketergantungan dan bahkan terdapat berbagai bahaya pod vape bagi kesehatan. Sehingga setelah ini, diharapkan Anda lebih bijak menggunakan vape. Jika mungkin, Anda perlahan mulai untuk menghindari penggunaan pod vape maupun rokok konvensional karena sama-sama membahayakan kesehatan tubuh.

Hiperparatiroidisme, Produksi Hormon Berlebih pada Kelenjar Paratiroid

Hiperparatiroidisme, Produksi Hormon Berlebih pada Kelenjar Paratiroid

Setiap manusia pasti memiliki kelenjar paratiroid, yaitu kelenjar yang terletak di area leher, dekat dengan kelenjar tiroid, dan berfungsi untuk menghasilkan hormon paratiroid. Apabila hormon paratiroid diproduksi dalam jumlah berlebih, Anda akan mengalami kondisi yang disebut dengan hiperparatiroidisme.

Hiperparatiroidisme bisa menyebabkan peningkatan kalsium dalam darah. Akibatnya, Anda akan mengalami berbagai penyakit yang berbahaya bagi tubuh. 

Jenis-jenis penyakit hiperparatiroidisme

Terdapat beberapa jenis hiperparatiroidisme dengan gejala, penyebab, dan cara pengobatan yang berbeda, yaitu: 

  • Hiperparatiroidisme primer

Kondisi ini terjadi ketika terdapat gangguan pada salah satu kelenjar paratiroid. Biasanya, kondisi ini disebabkan oleh adanya tumor jinak yang menekan kelenjar atau terjadinya pembesaran pada setidaknya dua kelenjar.

Secara khusus, hiperparatiroidisme primer rentan terjadi pada orang-orang yang memiliki kelainan bawaan tertentu, memiliki sejarah kekurangan kalsium dan vitamin D, terpapar radiasi dari pengobatan kanker, serta mengonsumsi obat berjenis litium. 

  • Hiperparatiroidisme sekunder

Hiperparatiroidisme sekunder terjadi karena ada kondisi penyakit lain di dalam tubuh Anda yang menyebabkan penurunan kadar kalsium. Karena kurangnya kalsium, kelenjar paratiroid Anda akan bekerja terlalu keras untuk mengimbangi kalsium tersebut.

Sebagian besar kasus untuk kondisi ini disebabkan oleh gagal ginjal kronis yang terjadi akibat kalsium dan vitamin D yang sangat rendah dalam tubuh. Kurangnya kalsium dan vitamin D bisa disebabkan oleh ketidakmampuan sistem pencernaan dalam menyeram kedua kandungan tersebut dari makanan yang Anda konsumsi.

Gejala yang dialami penderita hiperparatiroidisme

Banyak penderita hiperparatiroidisme yang tidak merasakan gejala tertentu atau hanya mengalami gejala yang sangat ringan. Gejalanya pun dapat berbeda-beda pada setiap pasien. Tapi, umumnya gejala yang dialami berupa: 

  • Depresi
  • Merasa haus terus menerus dan sering buang air kecil
  • Mual dan kehilangan nafsu makan
  • Sembelit dan sakit perut
  • Kelelahan dan kelemahan otot
  • Kehilangan konsentrasi
  • Kebingungan

Apabila tidak segera diatasi, gejala ini akan berkembang dan menyebabkan gejala yang semakin parah, seperti: 

  • Kejang otot
  • Muntah-muntah
  • Tekanan darah tinggi
  • Detak jantung tidak teratur
  • Nyeri sendi dan nyeri tulang
  • Dehidrasi
  • Kebingungan
  • Kantuk

Komplikasi yang mungkin muncul akibat hiperparatiroidisme

Dalam beberapa kasus, hiperparatiroidisme yang tidak ditangani dengan tepat juga bisa menimbulkan komplikasi berupa: 

  • Osteoporosis

Kondisi ini terjadi ketika Anda mengalami kelemahan tulang, membuat tulang menjadi rapuh dan mudah patah. Hal ini terjadi karena rendahnya kadar kalsium yang berperan penting dalam menjaga kesehatan tulang. 

  • Batu ginjal

Kalsium yang terlalu tinggi dalam darah akan menyebabkan tingginya kadar kalsium dalam urin Anda pula. Akibatnya, muncul timbunan kecil kalsium dan zat lain yang mengeras dan terbentuk di ginjal. Timbunan ini disebut dengan batu ginjal, bisa menyebabkan rasa sakit saat melewati saluran kemih. 

  • Penyakit kardiovaskular

Sebenarnya, belum ada penelitian khusus yang bisa menjelaskan hubungan antara produksi hormon paratiroid berlebih dengan penyakit kardiovaskular. Tapi, banyak kondisi kardiovaskular yang terjadi akibat kadar kalsium yang terlalu tinggi.

Beberapa penyakit kardiovaskular yang bisa menjadi komplikasi dari kondisi ini meliputi tekanan darah tinggi, penyakit jantung, dan lain sebagainya. 

  • Hipotiroidismo neonatal

Hipoparatiroidisme adalah kondisi yang berbanding terbalik dengan hiperparatiroidisme. Apabila ibu hamil mengalami hiperparatiroidisme, bayi yang dilahirkan nantinya rentan mengalami hipoparatiroidisme, yaitu kadar kalsium yang sangat rendah. 

Komplikasi dari penyakit hiperparatiroidisme bisa dihindari apabila Anda mendapatkan penanganan secara cepat setelah merasakan adanya gejala. 

Diet Bebas Gluten (Gluten-Free) untuk Dermatitis Herpetiformis

Diet Bebas Gluten (Gluten-Free) untuk Dermatitis Herpetiformis

Dermatitis herpetiformis adalah salah satu jenis masalah kulit berupa ruam dan sangat gatal. Ruam biasanya muncul sebagai kumpulan benjolan merah yang gatal dan melepuh berisi air. Ruam dan rasa gatal dapat terjadi di bagian tubuh mana saja, tetapi paling sering muncul di bokong, lutut, siku, punggung bawah, dan belakang leher. Untuk mendiagnosis seseorang apakah mengalami dermatitis herpetiformis atau tidak, kebanyakan dokter ahli kulit akan melakukan biopsi kulit untuk mencari antibodi spesifik terhadap gluten.

Umumnya, penderita dermatitis herpetiformis dapat memperoleh pertolongan jangka pendek dalam bentuk obat Dapson, yaitu antibiotik berbasis sulfur. Sayangnya, Dapson memiliki efek samping yang cukup serius apabila dikonsumsi dalam jangka panjang. Jadi, Anda tidak boleh mengonsumsi obat ini lebih lama dibandingkan waktu Anda menjalankan diet bebas gluten.

Diet bebas gluten mungkin tidaklah mudah

Diet bebas gluten merupakan satu-satunya pengobatan jangka panjang yang direkomendasikan untuk penderita dermatitis herpetiformis. Menerapkan diet ini juga dapat membantu mencegah kerusakan organ internal yang berkaitan dengan konsumsi makanan gluten.

Sayangnya, menjalani diet bebas gluten untuk memberantas dermatitis herpetiformis mungkin bukanlah hal yang mudah. Ruam dapat muncul dengan paparan gluten bahkan yang sangat sedikit sekalipun. Anda pun butuh waktu berhari-hari untuk meredakan ruamnya. Hal ini mungkin akan menyebabkan penderita dermatitis herpetiformis sulit menjalankannya, bahkan mungkin mengabaikannya sama sekali.

Melalui studi kohort pada tahun 2011 yang diterbitkan oleh JAMA Dermatology, dari 86 pasien dermatitis herpetiformis, hanya sekitar 40% pasien yang mengikuti diet bebas gluten, dan hanya 5 orang saja yang berhasil total mengurangi gejala dermatitis herpetiformis melalui diet bebas gluten.

Tips menjalankan diet bebas gluten untuk penderita dermatitis herpetiformis

Meskipun sulit, tetapi Anda tetap harus berusaha menjalankan diet bebas gluten untuk mengontrol dermatitis herpetiformis sepenuhnya. Anda juga dapat melibatkan seluruh keluarga Anda di rumah untuk mendukung keberhasilan diet ini.

Memang, hampir tidak mungkin rasanya menghindari cukup gluten untuk menghentikan reaksi ruam dan gatal yang muncul jika Anda tinggal di sebuah rumah di mana orang-orang di dalamnya adalah pemakan gluten. Namun, Anda dapat memastikannya dengan menghindari makanan yang mengandung gluten, seperti sereal, biskuit, muffins, roti, kue, pizza, atau makanan lainnya yang terbuat dari bahan tepung terigu. 

Adapun makanan yang bebas gluten dapat Anda peroleh dari daging dan ikan (pastikan tidak ada tambahan bahan glutennya), buah-buahan, serta sayur-sayuran. Anda juga dapat mengonsumsi makanan dengan klaim gluten-free, tetapi pastikan makanan tersebut tidak terkontaminasi dengan makanan lain yang mengandung gluten.

Saat Anda makan di luar, seperti restoran atau café, meskipun ada menu bebas glutennya, tetap berisiko terkena terkontaminasi silang. Maka dari itu, cobalah makan lebih jarang di luar dan sebaiknya mengonsumsi makanan di rumah jelas bebas glutennya.

Jika Anda menerapkan diet bebas gluten ini dengan baik dan disiplin, dermatitis herpetiformis Anda dapat segera membaik. 

Penyembuhannya butuh bertahun-tahun

Kenyataannya, tidak ada yang instan, termasuk dalam penyembuhan dermatitis herpetiformis. Mungkin Anda perlu waktu berbulan-bulan atau bertahun-tahun agar dapat mengontrol dermatitis herpetiformis dengan menerapkan diet bebas gluten dan menjadikannya sebagai sebuah kebiasaan. 

Namun, jika Anda sangat ketat dan disiplin menjalankannya, gejala dermatitis herpetiformis akan semakin berkurang dari waktu ke waktu. Akhirnya, Anda pun mungkin akan berhenti mengalami ruam, walaupun mungkin mungkin masih ada rasa gatal di beberapa bagian tubuh tertentu yang terkena. 

Ingatlah, paparan gluten yang besar dapat membuat dermatitis herpetiformis kambuh dan butuh waktu lebih lagi untuk menghilangkannya. 

Mengikuti diet bebas gluten bisa jadi hal yang sulit, terlebih lagi jika Anda mengikuti diet yang super ketat dengan tidak mengonsumsi banyak makanan meskipun mungkin, klaimnya sudah free-gluten. Namun, manfaatnya luar biasa dalam membantu menghentikan ruam dan rasa gatal yang muncul akibat dermatitis herpetiformis. Walaupun belum menyembuhkan secara total, setidaknya dengan menerapkan diet bebas gluten dapat mengurangi dosis atau mencegah efek samping serius dari obat yang Anda konsumsi.

Apakah Berbahaya Ketika Pembuluh Darah Mata Pecah?

Perdarahan subkonjungtiva terjadi ketika pembuluh darah kecil pecah tepat di bawah permukaan bening mata Anda (konjungtiva).   Anda mungkin tidak menyadari bahwa Anda mengalami pembuluh darah mata pecah sampai Anda melihat ke cermin.

Gejala yang paling jelas terlihat adalah bercak merah darah yang khas pada bagian putih mata Anda. Hal ini bisa terlihat cukup mengkhawatirkan dan mungkin menjadi lebih luas, jika Anda minum obat seperti aspirin atau warfarin yang mempengaruhi kemampuan darah untuk menggumpal, tetapi tidak ada yang perlu dikhawatirkan.

Anda tidak akan merasakan sakit apa pun dan kondisi ini tidak akan mempengaruhi penglihatan Anda. Namun, beberapa orang mungkin mengalami perasaan penuh pada mata atau sensasi berpasir ketika mengalami pembuluh darah mata pecah.

Apa penyebab pecahnya pembuluh darah di mata? Pembuluh darah yang pecah di mata Anda dapat terjadi secara spontan dan mungkin tidak selalu diketahui penyebab pastinya, tetapi beberapa penyebab perdarahan subkonjungtiva dapat mencakup hal-hal seperti:

  • Pengencangan, batuk, atau bersin
  • Cedera pada mata
  • Operasi mata

Dalam kebanyakan kasus, perdarahan subkonjungtiva tidak memerlukan pengobatan apapun karena biasanya akan hilang dengan sendirinya setelah beberapa minggu. Jika Anda merasakan iritasi terkait, tanyakan apoteker Anda tentang tetes mata pelembab yang bisa digunakan.

Jika pembuluh darah yang pecah disebabkan oleh cedera mata, Anda harus menemui dokter mata untuk memastikan tidak ada kerusakan lain pada mata. 

Saat Anda mengalami perdarahan subkonjungtiva berulang, Anda harus menemui dokter umum untuk menentukan penyebab yang mendasari, yang dapat mencakup tekanan darah tinggi atau pembekuan darah yang buruk.

Pembuluh darah mata pecah atau perdarahan subkonjungtiva, merupakan kondisi yang tidak berbahaya. Kondisi ini secara bertahap akan menjadi lebih ringan dan memudar setelah beberapa minggu. 

Pembuluh darah mata bisa pecah secara spontan, karena reaksi alami yang tidak dapat Anda kendalikan. Sebenarnya tidak ada yang bisa Anda lakukan untuk mencegah terjadinya kondisi ini. Namun jika Anda memiliki kekhawatiran pada kondisi mata Anda, segera kunjungi dokter.

Hati-hati, 7 Gejala ini Tandakan Kondisi Amyloidosis

Protein memang dibutuhkan tubuh dan berguna bagi kesehatan berbagai organ. Akan tetapi, penumpukan protein terlalu banyak di dalam tubuh justru bisa berbuah bencana, apalagi jika jenisnya termasuk protein abnormal yang kerap disebut amiloid. Kondisi penumpukan protein abnormal yang berlebihan ini kerap disebut amyloidosis dalam dunia medis.

Penumpukan protein abnormal ini tidak bisa dipandang remeh. Pasalnya, adanya penumpukan amiloid dapat memengaruhi kerja berbagai organ tubuh vital. Bahkan dalam kasus terburuk, organ-organ tempat amiloid menumpuk bisa mengalami kegagalan kerja. Beberapa organ vital yang kerap disambangi kondisi amyloidosis, seperti jantung, ginjal, serta hati.

Risiko terkena amyloidosis memang sulit untuk dihindari. Karena itu, sebaiknya sebelum kondisi penumpukan protein abnormal tersebut membuat organ-organ tubuh menjadi tidak berfungsi, penanganan medis mesti segera dilakukan. Ketika Anda menemui gejala-gejala ini dalam tubuh Anda, artinya sudah tiba waktunya mengonsultasikan diri ke dokter untuk mengecek apakah Anda mengalami penumpukan protein amiloid atau tidak.

  1. Memar Tanpa Sebab

Protein yang terlalu berlebih di dalam sebenarnya bisa dikenali gejala umumnya dari kondisi kulit Anda. Jika kulit Anda kerap mengalami memar tanpa sebab, artinya Anda harus berhati-hati sebab sangat mungkin Anda penumpukan protein abnormal pada tubuh. Umumnya, memar akibat protein berlebih kerap ditemukan di bagian dekat mata ataupun kulit sekitar bagian sendi.

  • Kesemutan

Jangan remehkan kondisi kesemutan sebab bisa jadi hal tersebut menunjukkan kondisi tubuh yang tidak sehat. Apalagi, rata-rata penderita amyloidosis kerap mengalami kesemutan sebagai gejala awal. Kesemutan yang biasanya dirasakan oleh penderita amyloidosis kerap terjadi di bagian ibu jari ataupun jari-jari tangan lainnya.

  • Pembengkakan Kaki

Gejala amyloidosis yang satu ini harus segera disikapi. Apabila Anda terlalu sering mengalami pembengkakan kaki, hampir dapat dipastikan ada masalah terkait jantung ataupun ginjal Anda. Protein abnormal menjadi salah satu sumber masalah di jantung dan ginjal yang jika dibiarkan dapat menjerumuskan Anda dalam kondisi gagal jantung ataupun gagal ginjal.

  • Tekanan Darah Rendah

Bukan hanya tekanan darah tinggi yang mesti diwaspadai. Ketika tekanan darah Anda selalu berada di batas rendah, Anda patut waspada. Masalahnya, salah satu gejala amyloidosis adalah kondisi tekanan darah rendah. Kondisi ini makin harus diwaspadai apabila Anda tadinya memiliki tekanan darah yang cenderung normal atau tinggi, namun mendadak dalam beberapa waktu menjadi memiliki masalah tekanan darah rendah.

  • Masalah Pencernaan

Masalah pencernaan bisa terjadi karena banyak sebab. Salah satu pemicunya adalah terlalu banyaknya protein yang menumpuk di saluran gastrointestinal. Ketika hal ini terjadi, Anda akan kerap mengalami masalah pencernaan, mulai dari rasa kembung, sembelit, juga diare parah. Tidak ada salahnya segera berobat ke dokter ketika merasa Anda terlalu sering mengalami masalah pencernaan.

  • Sesak Napas

Masalah pernapasan juga bisa menjadi salah satu ciri Anda mengidap amyloidosis. Gejala ini Anda akan alami ketika penumpukan protein abnormal sudah menyerang bagian jantung Anda. Pada saat itu terjadi, Anda akan kerap mengalami sesak napas.

  • Penurunan Berat Badan

Jangan langsung senang ketika berat badan Anda mengalami penurunan drastis, apalagi jika hal tersebut terjadi tanpa sebab. Anda tidak sedang diet atau olahraga ekstem, tetapi tiba-tiba mengalami penurunan berat badan artinya ada masalah di pencernaan Anda. Tidak menutup kemungkinan, saluran pencernaan Anda terkena amyloidosis sehingga mengalami kondisi tersebut.

Menyadari gejala amyloidosis lebih dini akan lebih baik. Dengan demikian, kemungkinan terburuk akibat adanya penumpukan protein abnormal di dalam tubuh yang bisa menyebabkan kegagalan organ vital bisa dicegah. Jadi, berhati-hatilah terhadap gejala aneh sekecil apapun di tubuh Anda.

Mengenal Lebih Jauh tentang Tiga Jenis Kondisi Mata Berdarah

Jika mendengar tentang mata berdarah, hal pertama kali yang mungkin Anda pikirkan adalah gangguan kesehatan yang cukup berbahaya. Kondisi ini ditandai dengan adanya urat-urat merah atau bercak merah yang terlihat jelas di permukaan mata Anda.

Mata berdarah adalah kondisi yang merujuk pada pecahnya pembuluh darah di dalam mata atau kerusakan pembuluh darah, sehingga menimbulkan warna merah pada permukaan mata.

Perlukah mengkhawatirkan kondisi mata berdarah?

Kondisi mata berdarah pada dasarnya termasuk salah satu kondisi masalah kesehatan mata yang cukup sering terjadi. Mungkin tanpa Anda sadari, Anda pernah mengalami mata berdarah, tanpa adanya gejala atau gangguan lain yang signifikan. Kebanyakan kasus mata berdarah dapat sembuh dengan sendirinya dan tergolong tidak membahayakan kesehatan.

Namun, dalam kasus tertentu, terdapat tiga jenis mata berdarah yang perlu Anda waspadai. Lebih jelasnya, mari simak informasi di bawah ini.

  • Hyphema: salah satu jenis mata berdarah yang jarang terjadi. Hyphema disebabkan ketika ada darah yang menumpuk di sekitar bulatan hitam mata (tepatnya di area iris dan pupil). Pendarahan ini kemungkinan besar terjadi karena ada luka pada kornea.

Kondisi ini berbeda dengan mata berdarah jenis pendarahan subconjunctival, yang mana darah pada kondisi hyphema cukup mengganggu penglihatan. Kondisi jenis mata berdarah ini juga disertai dengan rasa nyeri. Jika kondisi ini dibiarkan, maka hyphema dapat menyebabkan kehilangan penglihatan secara permanen. Dalam kasus tertentu, hyphema dapat muncul dalam ukuran kecil yang tidak terlihat kasat mata.

  • Pendarahan subconjunctival: jenis mata darah pendarahan subconjunctival atau subconjunctival hemorrhage tergolong sebagai jenis mata berdarah yang paling umum terjadi. Cirinya, terdapat bercak merah pada bagian putih mata.

Bagian putih yang disebut dengan conjunctival memiliki pembuluh darah halus yang tak kasat mata. Ketika pembuluh darah ini rusak, maka akan terdapat darah yang keluar dan mengakibatkan munculnya bercak merah pada mata.

Kondisi mata berdarah ini tidak berbahaya dan dapat sembuh sendiri dalam beberapa hari ke depan. Anda tidak perlu terlalu khawatir dengan kondisi mata berdarah jenis ini, karena sering kali tidak diikuti dengan rasa sakit.

  • Pendarahan di jaringan dalam: jenis mata berdarah ini merujuk pada kondisi adanya pendarahan pada jaringan dalam yang tidak terlihat dari bagian luar. Kemungkinan besar, pendarahan ini terjadi di bagian dalam atau belakang bola mata. Lokasi yang rawan terkena pendarahan dalam pada mata, yaitu bagian bawah retina, makula (bagian dari retina), dan cairan mata.

Gejala yang perlu diwaspadai dari mata berdarah jaringan dalam, yaitu kaburnya pandangan atau adanya warna kemerahan pada penglihatan, adanya bercak mengambang di penglihatan, melihat cahaya berkedip, sensitif terhadap cahaya, pembengkakan pada mata, dan adanya sensasi seperti tertekan di sekitar bola mata.

Memang, kebanyakan kondisi mata berdarah tidak berbahaya dan dapat hilang dengan sendirinya. Namun, jika kondisi mata berdarah ini diikuti dengan gejala tertentu, maka Anda perlu untuk memeriksakan kondisi mata Anda segera. Beberapa gejala yang perlu diwaspadai:

  • perih
  • nyeri
  • mata berair
  • adanya perubahan pada penglihatan Anda
  • adanya kilat cahaya atau partikel yang melayang dalam penglihatan Anda.