Mengenal Lebih Jauh tentang Tiga Jenis Kondisi Mata Berdarah

Jika mendengar tentang mata berdarah, hal pertama kali yang mungkin Anda pikirkan adalah gangguan kesehatan yang cukup berbahaya. Kondisi ini ditandai dengan adanya urat-urat merah atau bercak merah yang terlihat jelas di permukaan mata Anda.

Mata berdarah adalah kondisi yang merujuk pada pecahnya pembuluh darah di dalam mata atau kerusakan pembuluh darah, sehingga menimbulkan warna merah pada permukaan mata.

Perlukah mengkhawatirkan kondisi mata berdarah?

Kondisi mata berdarah pada dasarnya termasuk salah satu kondisi masalah kesehatan mata yang cukup sering terjadi. Mungkin tanpa Anda sadari, Anda pernah mengalami mata berdarah, tanpa adanya gejala atau gangguan lain yang signifikan. Kebanyakan kasus mata berdarah dapat sembuh dengan sendirinya dan tergolong tidak membahayakan kesehatan.

Namun, dalam kasus tertentu, terdapat tiga jenis mata berdarah yang perlu Anda waspadai. Lebih jelasnya, mari simak informasi di bawah ini.

  • Hyphema: salah satu jenis mata berdarah yang jarang terjadi. Hyphema disebabkan ketika ada darah yang menumpuk di sekitar bulatan hitam mata (tepatnya di area iris dan pupil). Pendarahan ini kemungkinan besar terjadi karena ada luka pada kornea.

Kondisi ini berbeda dengan mata berdarah jenis pendarahan subconjunctival, yang mana darah pada kondisi hyphema cukup mengganggu penglihatan. Kondisi jenis mata berdarah ini juga disertai dengan rasa nyeri. Jika kondisi ini dibiarkan, maka hyphema dapat menyebabkan kehilangan penglihatan secara permanen. Dalam kasus tertentu, hyphema dapat muncul dalam ukuran kecil yang tidak terlihat kasat mata.

  • Pendarahan subconjunctival: jenis mata darah pendarahan subconjunctival atau subconjunctival hemorrhage tergolong sebagai jenis mata berdarah yang paling umum terjadi. Cirinya, terdapat bercak merah pada bagian putih mata.

Bagian putih yang disebut dengan conjunctival memiliki pembuluh darah halus yang tak kasat mata. Ketika pembuluh darah ini rusak, maka akan terdapat darah yang keluar dan mengakibatkan munculnya bercak merah pada mata.

Kondisi mata berdarah ini tidak berbahaya dan dapat sembuh sendiri dalam beberapa hari ke depan. Anda tidak perlu terlalu khawatir dengan kondisi mata berdarah jenis ini, karena sering kali tidak diikuti dengan rasa sakit.

  • Pendarahan di jaringan dalam: jenis mata berdarah ini merujuk pada kondisi adanya pendarahan pada jaringan dalam yang tidak terlihat dari bagian luar. Kemungkinan besar, pendarahan ini terjadi di bagian dalam atau belakang bola mata. Lokasi yang rawan terkena pendarahan dalam pada mata, yaitu bagian bawah retina, makula (bagian dari retina), dan cairan mata.

Gejala yang perlu diwaspadai dari mata berdarah jaringan dalam, yaitu kaburnya pandangan atau adanya warna kemerahan pada penglihatan, adanya bercak mengambang di penglihatan, melihat cahaya berkedip, sensitif terhadap cahaya, pembengkakan pada mata, dan adanya sensasi seperti tertekan di sekitar bola mata.

Memang, kebanyakan kondisi mata berdarah tidak berbahaya dan dapat hilang dengan sendirinya. Namun, jika kondisi mata berdarah ini diikuti dengan gejala tertentu, maka Anda perlu untuk memeriksakan kondisi mata Anda segera. Beberapa gejala yang perlu diwaspadai:

  • perih
  • nyeri
  • mata berair
  • adanya perubahan pada penglihatan Anda
  • adanya kilat cahaya atau partikel yang melayang dalam penglihatan Anda.

Kenali Gejala-Gejala Hernia Formal

Hernia adalah kondisi saat organ dalam tubuh terdorong dan mencuat keluar melewati otot serta jaringan ikat sekitarnya yang lemah. Jika hernia diamani oleh bagian dalam perut (seperti usus atau jaringan perut lainnya) yang terdorong dan melalui femoral canal (terowongan yang ada di selakangan dan dilewati oleh arteri, vena dan saraf femoral), kondisi ini disebut hernia femoral. Gejala penyakit ini bisa berupa tonjolan di dekat selangkangan atau paha. Hernia femoral termasuk jarang terjadi dan angka kejadiannya diperkirakan hanya 3 persen dari seluruh kasus hernia.

Gejala-gejala hernia femoral

Gejala hernia femoral tergantung dari ukuran dan tingkat keparahan hernia, simak penjelasan berikut ini:

  • Ukuran kecil hingga sedang

Hernia femoral berukuran kecil atau sedang biasanya tidak memiliki gejala. Tonjolan kulit pada hernia yang kecil juga kadang tidak terlihat, sehingga sering tidak disadari oleh penderitanya.

  • Ukuran besar

Pada hernia femoral berukuran besar, tonjolan di selangkangan terlihat dengan jelas dan memicu rasa ketidaknyamanan. Gejalanya akan semakin parah dan terasa nyeri ketika penderita berdiri atau mengangkat beban yang berat. Sakit pinggang juga bisa dialami oleh penderitanya.

Jika tonjolan kecil, sebagai besar hernia femoralis tidak menimbulkan gejala. Namun, kasus yang parah dapat menyebabkan mual, muntah, serta sakit perut.

Penyebab terjadinya hernia femoral

Penyebab dari hernia femoral belum diketahui secara pasti. Pasalnya, otot di area femoral canal bisa saja lemah sejak lahir atau menjadi lemah secara perlahan-lahan seiring dengan bertambahnya usia.

  • Mengejan secara berlebihan, misalnya ketika buang air besar atau saat melahirkan.
  • Mengalami sembelit jangka panjang (kronis).
  • Mengangkat beban yang terlalu berat.
  • Memiliki berat badan berlebih atau obesitas.
  • Mengalami kesulitan buang air kecil karena pembesaran prostat.
  • Pengaruh jenis kelamin. Wanita diperkirakan 10 kali lebih berisiko untuk mengalami hernia femoral dibanding pria. Pasalnya, ukuran panggul wanita lebih lebar daripada pria.
  • Pengaruh faktor usia. Hernia femoral lebih sering dialami oleh orang dewasa. Jika terjadi pada anak-anak, kondisi ini biasanya terjadi karena gangguan medis tertentu, seperti kelainan jaringan ikat.
  • Riwayat keluarga. Orang dengan anggota keluarga yang mengidap hernia di area selangkangan memiliki risiko 8 kali lebih besar untuk menderita penyakit yang sama.

Giardiasis

Giardiasis merupakan infeksi usus halus dimana gangguan tersebut disebabkan oleh parasit Giarda doudenalis. Parasit tersebut juga disebut sebagai Giardia lamblia atau Giardia intestinalis.

Giardiasis merupakan gangguan yang terjadi di sistem pencernaan karena adanya parasit. Giardiasis juga lebih sering muncul di negara-negara berkembang, terutama jika negara tersebut memiliki jumlah penduduk yang padat dan kurang menerapkan protokol kesehatan.

Gejala

Pada umumnya, giardiasis sama seperti virus Corona atau Covid-19 dimana masalah tersebut tidak selalu menimbulkan gejala, namun dapat menular orang lain. Jika seseorang mengalami gejala, gejala yang terjadi akan muncul dalam waktu 1 hingga 3 minggu setelah paparan parasit terjadi. Seseorang yang terkena giardiasis bisa mengalami gejala sebagai berikut:

  • Merasa lelah.
  • Kram di bagian perut.
  • Diare dengan tinja cair dan berbau busuk.
  • Perut kembung.
  • Mual.
  • Penurunan berat badan.
  • Cenderung mengeluarkan sendawa.

Penyebab

Giardiasis disebabkan oleh parasit Giardia lamblia. Parasit tersebut dapat ditemukan baik dalam kotoran hewan maupun manusia.

Selain itu, Giardia lamblia dapat tumbuh subur melalui makanan, air, dan tanah yang telah terkontaminasi. Parasit tersebut dibagi menjadi 2 bentuk, antara lain trofozoit (bentuk aktif) dan kista (bentuk tidak aktif).

Trofozoit akan menempel pada bagian dinding usus halus dan dapat memicu gejala giardiasis. Trofozoit juga tidak dapat bertahan dalam waktu yang lama ketika berada di luar tubuh manusia atau hewan, dan tidak dapat menular orang lain. Kista dapat bertahan dalam waktu yang lama ketika berada di luar tubuh manusia, dan dapat menular orang lain.

Ketika tertelan, kista akan berubah menjadi trofozoit dimana bentuk tersebut akan menimbulkan gejala di dalam tubuh. Ada berbagai cara agar parasit tersebut dapat masuk ke dalam tubuh manusia, salah satunya termasuk air yang terkontaminasi.

Air yang terkontaminasi biasanya dapat ditemukan di kolam renang, tempat spa, atau danau. Oleh karena itu, setiap orang sangat dihimbau untuk berhati-hati jika ingin menggunakan air, karena belum tentu airnya bersih.

Parasit tersebut juga dapat menyebar melalui makanan yang terkontaminasi atau jika makanan tersebut tidak berada dalam keadaan bersih.

Risiko

Seseorang bisa mengalami risiko yang lebih tinggi jika mereka:

  • Merupakan anak-anak, karena anak-anak lebih rentan terhadap parasit tersebut dibandingkan dengan orang dewasa.
  • Melakukan seks anal, dan lebih berisiko jika tidak menggunakan kondom.
  • Memiliki keterbatasan air bersih, terutama jika mereka tinggal di daerah yang padat penduduk dan kumuh.

Diagnosis

Jika Anda mengalami giardiasis, Anda sebaiknya periksa diri ke dokter. Dokter dapat membantu Anda dengan melakukan diagnosis terlebih dahulu. Diagnosis yang dilakukan meliputi:

  • Tanya jawab

Dokter akan menanyakan kepada Anda terkait dengan kondisi Anda.

  • Pemeriksaan fisik

Pemeriksaan fisik perlu dilakukan, khususnya di bagian perut Anda.

  • Pemeriksaan penunjang

Pemeriksaan penunjang juga dapat dilakukan dengan pemeriksaan sampel tinja, pengambilan dan pemeriksaan cairan, dan biopsi.

Pengobatan

Untuk mengobati giardiasis, berikut adalah jenis obat yang dapat digunakan:

  • Metronidazole.
  • Tinidazole.
  • Nitazoxanide.
  • Paromomycin.

Pencegahan

Selain pengobatan di atas, berikut adalah beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mencegah giardiasis:

  • Sering menjaga kebersihan seperti mencuci tangan secara rutin.
  • Berhati-hati jika ingin mengkonsumsi makanan atau minuman, apakah terkontaminasi atau tidak.
  • Hindari seks anal.

Berkonsultasi Dengan Dokter

Jika Anda mengalami gejala seperti di atas, Anda sebaiknya konsultasikan masalah ini dengan dokter. Sebelum Anda melakukannya, Anda sebaiknya persiapkan diri dengan beberapa hal di bawah:

  • Mencatat gejala yang Anda alami.
  • Mencatat riwayat medis (jika ada).
  • Mencatat obat yang Anda konsumsi.
  • Mencatat pertanyaan yang ingin diajukan ke dokter.

Ketika berkonsultasi, dokter akan menanyakan Anda terkait dengan kondisi Anda seperti:

  • Kapan gejala tersebut terjadi?
  • Apakah gejala tersebut membaik atau memburuk?
  • Apakah Anda menggunakan obat-obatan tertentu?

Kesimpulan

Giardiasis merupakan salah satu gangguan pada tubuh yang perlu diwaspadai. Oleh karena itu, Anda perlu menerapkan pola hidup yang bersih dan sehat dengan cara-cara yang dianjurkan di atas. Untuk informasi lebih lanjut mengenai giardiasis, Anda bisa tanyakan hal tersebut ke dokter.

Ini Perbedaan Batuk Rejan dan Batuk Biasa

Batuk Rejan pada Anak, Penyebab dan Cara Mengatasinya

Munculnya gangguan pernapasan pada umumnya membuat tubuh kerap menunjukkan respons sebagai bentuk pertahanan. Salah satunya batuk, fungsi dari batuk ini untuk membersihkan lendir atau faktor penyebab iritasi yang mengganggu, bisa itu batuk rejan dan batuk biasa. Kedua jenis batuk ini memiliki perbedaan yang cukup mendasar.

Batuk bisa menyerang seseorang tanpa diikuti gejala lain dan bahkan tidak mengindikasikan penyakit serius, bahkan bisa sembuh dengan sendirinya dalam beberapa waktu. Batuk ringan bisa diatasi dengan konsumsi obat sederhana dan bahkan bisa dibuat di rumah sendiri, misalnya kombinasi bahan ramuan air madu dan lemon.

Batuk Rejan dan Batuk Biasa

Tanpa disadari dengan cermat, batuk bisa menjadi gejala sebuah penyakit mulai dari yang umum hingga tergolong berat. Kondisi ini bisa disebabkan karena infeksi saluran pernapasan dan penyakit yang bersarang dalam jangka panjang atau juga dapat dikenal dengan sebutan penyakit kambuhan, seperti bronkitis dan asma, rhinitis alergi, paparan debu dan kebiasaan merokok.

Batuk juga merupakan tanda munculnya sebuah penyakit, kondisi ini dikenal dengan batuk jenis rejan atau pertusis. Jenis batuk ini terjadi karena adanya infeksi bakteri di paru-paru serta di saluran pernapasan. Buruknya lagi, penyakit yang diakibatkan batuk ini sangat mudah untuk menular ke orang lain dan mengancam nyawa seseorang.

  • Batuk Biasa

Secara umum jenis batuk dibedakan menjadi dua yakni berdahak dan tidak berdahak alias batuk kering. Batuk berdahak terjadi karena adanya peningkatan produksi lendir atau dahak yang terdapat di saluran tenggorokan, sementara itu batuk kering memiliki gejala batuk tanpa disertai dahak di tenggorokan.

Batuk kering memiliki ciri yang sangat khas, yakni munculnya rasa gatal yang teramat sangat dan mengganggu di tenggorokan. Gatal inilah yang menjadi pemicu munculnya batuk tersebut, kondisi ini biasa terjadi di tahap akhir seseorang yang terserang flu seperti pilek atau juga setelah seseorang terpapar bahan iritan.

Penyebab dari kondisi tersebut belum diketahui bahkan para dokter hanya akan menanyakan gejala dan kondisi fisik si penderita guna pemeriksaan secara keseluruhan. Dalam beberapa kasus yang terjadi, pemeriksaan lanjutan dibutuhkan dan tujuannya untuk mengetahui secara pasti apa penyebab munculnya kondisi tersebut.

  • Batuk Rejan

Batuk jenis ini memiliki ciri yang tersendiri dan bahkan cenderung berbeda dengan jenis lainnya, sangat terkenal dengan rentetan batuk yang muncul secara terus-menerus. Sebelum batuk si penderita akan melakukan tarikan napas yang cukup panjang lewat mulut, selain itu kondisi ini terjadi dalam waktu yang cukup lama yakni tiga bulan tanpa ada tanda-tanda membaik.

Seseorang bisa terserang batuk ini jika kekurangan oksigen dalam darah, jika tidak segera ditangani dengan benar dan tepat, kondisi tersebut dapat memicu timbulnya komplikasi. Perlu diwaspadai dengan sangat benar karena batuk ini bisa menyebar dengan sangat cepat dari orang satu ke lainnya melalui udara dan kontak fisik.

Dalam tingkat yang sudah sangat parah, seseorang yang mengidap batuk ini bisa mengalami kerusakan tulang rusuk yang diakibatkan batuk sangat keras. Pencegahan yang bisa dilakukan untuk mengatasi kondisi ini adalah dengan cara mendapatkan vaksin pencegah, yakni vaksin pertuis. Sementara itu, penularan rentan terjadi ketika penderita masih dalam gejala tahap awal.

Segera lakukan pemeriksaan ke dokter jika diketahui mengalami beberapa gejala awal batuk ini, penanganan yang tepat dan cepat bisa membuat seseorang terhindar dari risiko terberat batuk ini, selain itu juga bisa mencegah penularan ke orang lain.

Jumlah Pasien Terbaru yang Kena Virus Corona di Indonesia

Kasus virus corona di Indonesia pertama kali terdeteksi dan diumumkan Presiden Joko Widodo pada Senin (2/3/2020). Sejak pertama kali muncul hingga saat ini, kasus positif virus corona Indonesi terus bertambah dan nyaris mencapai angka 14 ribu pasien positif. Dengan jumlah angka kematian karena virus corona yang mendekati angka seribu.

Penambah kasus positif virus corona di Indonesia mulai melaju sejak awal April 2020 dengan jumlah per harinya mencapai 200 hingga 300 pasien baru yang terinfeksi virus ini. Bahkan, laju penambahan tersebut semakin bertambah dan mencapai angka 400 di pertengahan April. Meskipun jumlah pasien yang sembuh di Indonesia telah melampaui angka kematian.

Virus Corona Indonesia

Pada awal Mei 2020 pertambahan kasus positif masih melaju dengan cepat dan berada di kisaran 300 orang setiap harinya. Terbaru pada Jumat (8/5/2020) kasus positif bertambah mencapai 338 orang dan total keseluruhan pasien positif virus corona di Indonesia mencapai angka 13.645 kasus orang yang positif.

Sementara jumlah pasien virus corona yang sembuh di Indonesia telah mencapai angka 2.607 orang dengan pasien yang meninggal sudah mencapai angka 959 kasus kematian. Menurut juru bicara pemerintah untuk penanganan virus corona, Achmad Yurianto menyebut bahwa penambahan kasus positif sebanyak 533 pasien posifit COVID-19 dalam 24 jam terakhir di rumah sakit di Indonesia.

“Hasil positif, pemeriksaan positif dengan metode polymerase chain reaction (PCR) 13.543, sementara dengan TCM (tes cepat molukuler) sebanyak 102 orang, totalnya 13.645,” ucap Achmad Yurianto di Graha Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Ia juga menyebut bahwa dalam periode yang sama masih terdapat penambahan 113 pasien yang dinyatakan sembuh.

Asal Mula Virus Corona Indonesia

Kasus virus corona di Indonesia sempat disebut mengalami ‘kurva datar’ oleh Kepala Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19, Doni Monardo. Jakarta disebut masih mengalami penambahan pasien virus corona yang fluktuatif. Hal ini berdasar pada tambahan pasien positif sebanyak 142 orang yang dinyatakan positif terinfeksi pada Jumat (1/5/2020) dan menjadi yang tertinggi sejak April.

Jumlah kasus virus corona secara global terus bertambah hingga mencapai 3,7 juta sejak menembus angka tiga juta penderita pada akhir April 2020. Sementara itu, dalam skala global pasien yang meninggal karena virus ini sudah mencapai 2650.000, sesuai dengan data yang dirilis oleh Johns Hopkins University pada Jumat (8/5/2020).

Jika sebelumnya Indonesia dinyatakan sebagai salah satu negara yang belum terinfeksi, kasus pertama virus ini menginfeksi dua masyarakat yang diduga telah melakukan kontak fisik dengan Warga Negara Asing (WNA) asal Jepang. Hal ini langsung diungkapkan oleh Menteri Kesehatan Indonesia, Agus Terawan Putranto.

Bermula pada tanggal 14 Februari 2020, pasien terinfeksi virus corona bekerja sebagai guru dansa dan memiliki teman dekat yang berasal dari Jepang. Dua hari berselang, guru dansa tersebut mengalami batuk dan kemudian melakukan pemeriksaan di rumah sakit terdekat. Namun, pada saat itu pasien masih diperbolehkan untuk rawat jalan.

Meski demikian, penyakit yang dialami pasien tak kunjung sembuh, hingga pada 6 Februari 2020 ia kembali dirujuk ke rumah sakit dan diminta menjalani rawat inap. Pada saat itu, pasien tak haya mengalami batuk saja tetapi juga mulai disertai dengan sesak napas. Dua hari berselang, pasien ditelfon rekannya di Malaysia yang menyebut temannya asal Jepang positif virus corona.

Kenali Jenis dan Ciri-Ciri Tahi Lalat yang Berpotensi Menjadi Tanda Kanker

Tahi lalat biasanya menjadi penanda fisik yang terkadang juga menjadi tanda lahir seseorang. Tahi lalat ini terbentuk dari pertumbuhan sel penghasil warna kulit (melanosit) yang berkumpul pada satu titik di kulit tubuh. Pada kenyataannya, tahi lalat terbagi menjadi beberapa jenis, yaitu tahi lalat kongenital, tahi lalat biasa, dan tahi lalat atipikal.

Ketiga jenis tahi lalat tersebut masing-masing memiliki ciri-ciri yang berbeda. Tahi lalat dapat muncul sejak bayi sebagai bawaan tanda lahir atau baru muncul ketika seseorang beranjak dewasa. Mengenali jenis dan ciri-ciri tahi lalat dapat membantu Anda mewaspadai gejala penyakit tertentu, seperti kanker kulit.

  1. Tahi lalat kongenital

Tahi lalat jenis ini merupakan tahi lalat yang umumnya muncul pada kulit sebagai tanda lahir. Bentuk tahi lalat kongenital dapat berbeda-beda menurut ukuran, bentuk, dan juga warnanya. Walaupun begitu, ciri umum yang sering terlihat adalah bentuk tahi lalat ini cenderung kecil, bulat, dan rata dengan permukaan kulit atau sedikit timbul. Warnanya dapat berbeda-beda, mulai dari hitam, cokelat muda atau tua, dan merah.

Jika ukuran tahi lalat ini berkembang dan menjadi lebih besar, maka terdapat risiko atau kemungkinan bahwa tahi lalat ini akan menjadi berbahaya ketika masa dewasa nanti.

  • Tahi lalat biasa

Jenis tahi lalat ini dapat muncul sejak seseorang dilahirkan hingga berusia 20-an. Umumnya, seseorang dapat memiliki sebanyak 40 tahi lalat di seluruh tubuh. Ciri-ciri tahi lalat ini, antara lain berbentuk bulat atau oval, rata atau sedikit timbul pada permukaan kulit, memiliki permukaan yang halus atau kasar dan terkadang memiliki helai rambut, serta memiliki ukuran yang kecil dan cenderung tidak berubah.

Jika seseorang memiliki lebih dari 50 tahi lalat pada tubuhnya, ia memiliki risiko yang tinggi untuk terkena kanker kulit.

  • Tahi lalat atipikal

Tahi lalat atipikal ini memiliki penampakan dengan bentuk yang cenderung tidak beraturan. Maka dari itu, ia sering kali dianggap mengganggu penampilan karena penampakannya yang jelek. Tahi lalat ini memiliki ciri khusus yang dapat dikenali:

  • bentuknya yang cenderung tidak beraturan.
  • Memiliki permukaan yang kasar.
  • Ukurannya lebih besar dibanding jenis tahi lalat lain, umumnya lebih dari 6 milimeter.
  • Memiliki warna campuran, seperti cokelat dan merah.

Walaupun jenis tahi lalat ini jarang muncul di kulit wajah, ia memiliki risiko yang lebih besar untuk menjadi tahi lalat yang berbahaya. Kemunculan tahi lalat ini dapat meningkatkan risiko kanker kulit melanoma, terlebih jika terdapat adanya penderita kanker kulit dalam riwayat kesehatan keluarga Anda.

Kenali dan amati perubahan pada tahi lalat di kulit tubuh Anda, sehingga Anda dapat mewaspadai gejala-gejala dari penyakit tertentu.

Apa yang Harus Dilakukan Jika Terjadi Bronkitis Pada Anak?

Jika anak sedang sakit, sebagai orangtua tentu ingin agar anak segera sembuh. Apalagi saat mengalami batuk tanpa henti disertai dengan bronkitis pada anak. Biasanya kita akan mencari sesuatu yang untuk menghentikannya seperti dengan minum obat batuk. Namun, terkadang obat batuk memiliki efek samping seperti mengantuk pusing padahal sebenarnya terdapat beberapa cara lain yang dapat membantu si Kecil untuk merasa lebih baik dan tetap aman.

Gejala bronkitis pada anak

Ada beberapa gejala bronkitis pada anak yang biasa terjadi. Perlu diingat bahwa setiap anak tidak memiliki gejala yang sama. Berikut gejala tersebut:

  1. Hidung berair (umumnya sebelum batuk muncul)
  2. Tidak enak badan, ditandai dengan rewel dan kelelahan
  3. Menggigil dan kedinginan
  4. Demam ringan disertai sedikit demam dengan suhu badan mencapai lebih dari 37.5 Celsius
  5. Nyeri pada punggung dan otot yang menyebabkan rasa tidak nyaman pada anak
  6. Bersin
  7. Radang tenggorokan
  8. Batuk

Tips agar anak tetap nyaman selama sakit

Bronkitis pada anak tentunya dapat disembuhkan dan diatasi dengan beberapa cara, seperti:

  • Menghindari hal yang dapat mengganggu pernapasan

Menjauh dari zat-zat, seperti asap rokok, asap kimia, debu, dan polusi udara. Jangan biarkan anak terpapar asap rokok, baik di rumah atau di lingkungan luar.

  • Beristirahatlah dengan cukup

Istirahat sebanyak mungkin, terutama selama beberapa hari pertama. Jika anak bantuk di malam hari hingga terbangun, gunakanlah bantal tambahan untuk menopang kepalanya.

  • Minum dalam jumlah banyak

Ketika bronkitis, sangat penting untuk mengencerkan dahak sehingga pada batuk dan bernapas lebih mudah. Jika anak lebih tertarik pada makanan daripada minuman, Anda juga dapat menawarkan beberapa jenis makanan dengan kadar air yang tinggi untuk membantu menjaga mereka agar tetap terhidrasi.

  • Bernapas dengan menggunakan uap air

Ada cara lain untuk mengencerkan dahak agar dahak dapat dikeluarkan dari tubuh lebih cepat. Semangkuk uap dibuat dengan cara merebus air dalam ketel dan tuangkan air ke dalam mangkuk yang besar. Dekatkan kepala anak Anda ke uap air tersebut.

Jangan Sepelekan Benjolan di Belakang Telinga!

Apakah kamu pernah mendapati adanya sebuah benjolan di belakang telinga? Apabila iya, kamu jangan panik terlebih dahulu, ya. Perlu diketahui, bahwa penyebab munculnya benjolan  ini dapat beragam, mulai dari jerawat, infeksi, hingga kanker. Lebih lanjutnya, mari simak artikel berikut ini!

Penyebab Benjolan di Belakang Telinga

Umumnya, benjolan di belakang telinga disebabkan oleh beberapa faktor di bawah ini:

  • Infeksi

Benjolan di belakang telinga dapat muncul karena adanya infeksi bakteri pada bagian tertentu di telinga. Terdapat tiga jenis infeksi yang mungkin terjadi, yaitu otitis media, abses, dan mastoiditis.

Otitis media terjadi karena adanya infeksi pada bagian tengah telinga. Infeksi ini akan menyebabkan penumpukan cairan dan pembengkakan.

Sementara itu, abses atau yang umumnya dikenal dengan bisul adalah benjolan yang berisi nanah dan akan terus berkembang ketika jaringan pada bagian belakang telinga terinfeksi oleh bakteri. Normalnya, tubuh akan secara otomatis mengirimkan sel darah putih pada bagian yang terinfeksi untuk melawan bakteri-bakteri. Nanah yang terdapat di dalam benjolan ini adalah hasil dari gabungan sel dengan jaringan yang rusak dan bakteri-bakteri di dalamnya. Seseorang yang memiliki abses akan merasakan perasaan nyeri ketika benjolan ini muncul.

Sama halnya dengan abses yang mengandung nanah di dalam benjolannya, mastoiditis adalah infeksi yang berkembang di belakang telinga.

  • Jerawat

Jerawat pada dasarnya dapat muncul di mana saja, termasuk di belakang telinga. Apabila pori-pori di kulit belakang telinga tersumbat oleh minyak dan sel kulit mati, maka jerawat akan muncul pada bagian itu. Dalam kasus yang lebih parah, jerawat akan meradang apabila tidak diatasi dan dapat menjadi infeksi.

Serupa dengan jerawat, namun dermatitis seboroik memiliki ciri yang bersisik dan berwarna kuning atau merah. Sayangnya, hingga saat ini penyebab munculnya dermatitis seboroik belum diketahui secara jelas.

  • Pembengkakan kelenjar getah bening

Limfadenopati merupakan pembengkakan kelenjar getah bening yang dapat menyebabkan munculnya benjolan di belakang telinga. Kasus ini disebabkan oleh infeksi, kanker, atau peradangan.

  • Kanker

              Apabila benjolan di belakang telingamu tidak terasa menyakitkan atau menimbulkan perasaan nyeri, namun terus membesar, sebaiknya kamu segera memeriksakannya ke dokter. Hal tersebut dapat menjadi pertanda adanya kanker.

  • Kista

Sebenarnya, kista dapat muncul di mana saja, termasuk di belakang telinga. Kista sebasea ini merupakan benjolan non kanker yang dapat muncul di bawah kulit. Benjolan ini dapat muncul karena kista berkembang di sekitar kelenjar sebasea yang berfungsi melumasi kulit dan rambut.

Nah, setelah kamu tahu apa-apa saja yang dapat menjadi penyebab munculnya benjolan di belakang telinga, semoga kamu tetap dapat mengambil tindakan bijak apabila hal ini terjadi, ya. Jangan panik dahulu sebelum kamu benar-benar mendengar hasil diagnosis dari dokter!

Jangan Sepelekan Bakteri Shigella yang Jadi Penyebab Infeksi Usus!

Pernahkah kamu mengalami buang air besar yang disertai darah? Atau diare berdarah? Apabila kamu pernah mengalami gejala tersebut, itu dapat menjadi pertanda bahwa kamu terinfeksi bakteri Shigella. Bakteri ini jugalah yang menjadi penyebab infeksi usus.

Bagaimana bakteri Shigella dapat menular?

Bakteri Shigella ditularkan melalui kontak langsung dengan penderita shigellosis. Shigellosis adalah istilah kedokteran untuk penyakit infeksi usus yang disebabkan oleh bakteri tersebut. Bakteri ini umumnya bersarang di tinja. Nah, siapa saja yang melakukan kontak langsung dengan penderita shigellosis dapat ikut terinfeksi juga.

Penularan shigellosis ini dapat terjadi melalui makanan dan minuman yang mengandung bakteri Shigella. Contoh, ketika kamu makan di sebuah tempat, di mana penyaji makanan tersebut tidak mencuci tangan dengan baik setelah buang air besar, atau makanan yang disajikan ternyata disimpan di tempat yang terkontaminasi dengan saluran pembuangan.

Contoh lain dari penularan bakteri Shigella adalah ketika seseorang tidak mencuci tangannya dengan bersih setelah mengganti popok bayi yang menderita shigellosis. Tangan yang terkontaminasi tersebut jika menyentuh mulut, maka dapat berisiko tinggi turut menginfeksi tubuh orang itu.

Kasus lain yang dapat kamu jadikan gambaran adalah ketika kamu secara tidak sadar berenang di kolam renang bersama dengan penderita shigellosis. Kamu juga perlu untuk memerhatikan dari mana asal air yang kamu minum, karena air yang terkontaminasi melalui saluran pembuangan dapat membawa serta bakteri Shigella ke dalam tubuh.

Gejala apa saja yang dapat timbul?

Infeksi Shigella atau infeksi usus akan muncul pada 1-2 hari setelah terjadinya kontak langsung dengan bakteri Shigella. Sementara itu, gejala infeksi Shigella baru akan muncul dalam rentang waktu seminggu. Secara umum, penderita infeksi Shigella memiliki gejala:

  • demam di atas 38 derajat
  • rasa sakit atau kram pada bagian perut
  • dehidrasi yang disertai diare berat
  • mual hingga muntah
  • diare yang disertai darah atau lendir.

Nah, jika kamu mengalami gejala-gejala seperti yang disebutkan di atas, maka kamu dianjurkan untuk segera berkonsultasi dengan dokter. Nantinya, dokter akan merekomendasikan kamu untuk dirujuk ke dokter spesialis penyakit dalam apabila memang kasusnya sesuai. Dokter juga akan meminta kamu untuk melakukan pemeriksaan laboratorium untuk mendapatkan sampel feses.

Efek apa saja yang dapat ditimbulkan dari infeksi Shigella?

Dalam beberapa kasus yang berat, Shigellosis dapat menyebabkan komplikasi, seperti dehidrasi, turunnya trombosit, kejang-kejang, hingga gagal ginjal akut. Oleh karena itu, jangan menyepelekan bakteri ini, ya!

Apa itu Ataksia Friedreich dan Apa Penyebabnya?

Penyakit langka Ataksia Friedreich merupakan penyakit langka yang diturunkan secara garis keturunan. Apabila dalam silsilah keluarga Anda terdapat seseorang yang menderita Ataksia Friedreich, secara tidak langsung Anda atau keturunan Anda berpeluang terjangkit penyakit ini. Walaupun penyakit ini hanya menyerang 1 dari 40.000 orang, pada kenyataannya dampak yang ditimbulkan cukup fatal.

Ataksia Friedreich menyerang bagian sistem saraf secara progresif, sehingga mengganggu sistem koordinasi tubuh. Penyakit ini merusak sumsum tulang belakang, saraf tepi, dan juga otak kecil. Bagian-bagian tersebut merupakan pusat dari koordinasi gerakan otot lengan dan kaki. Secara singkat, penderita akan kehilangan keseimbangan.

Waspadai Gejala Penyakit Ataksia Friedreich

Apabila seseorang menderita penyakit Ataksia Friedrich, gejala-gejala yang perlu diwaspadai umumnya muncul ketika ia berusia 5-15 tahun atau pada usia dewasa. Dalam beberapa kasus tertentu, penyakit ini dapat didiagnosis ketika umur 2 hingga 50-an. Gejala awal yang sering dikeluhkan adalah kesulitan berjalan dan menyeimbangkan tubuh.

Pasien Ataksia Friedreich akan terlihat seperti orang yang sedang mabuk ketika berjalan. Secara keseluruhan, semua otot akan mengalami keseimbangan yang buruk dan akan menyebar ke bagian badan yang lainnya. Setidaknya terdapat 9 gejala yang harus diperhatikan:

  • penglihatan memburuk
  • deformitas kaki (kaki bengkok)
  • tulang belakang melengkung (skoliosis)
  • mudah merasa lelah
  • diabetes
  • kesulitan menelan karena terganggunya koordinasi otot lidah dengan tenggorokan
  • otot kaku dan lemah
  • kesulitan ketika berbicara (cadel)
  • gangguan jantung, seperti sesak dan berdebar-debar

Bagaimana mendiagnosis Ataksia Friedreich?

Tahap awal yang dokter akan lakukan ketika mendiagnosis penyakit ini adalah dengan melihat riwayat kesehatan Anda. Setelah pengecekan riwayat kesehatan tersebut, selanjutnya dokter akan mengecek kondisi fisik Anda secara lengkap dan cermat. Pemeriksaan ini difokuskan pada masalah sistem saraf, tidak adanya refleks, keseimbangan yang buruk, dan kurangnya sensasi pada persendian.

Dokter juga akan melakukan prosedur pengecekan dengan CT scan, MRI otak dan sumsum tulang belakang. Tidak ketinggalan, dokter juga akan melakukan pemeriksaan rontgen kepala, tulang belakang, dan dada. Melalui prosedur MRI ini, akan dihasilkan gambar struktur tubuh secara keseluruhan. Sedangkan, CT scan akan memberikan gambaran tulang, pembuluh darah, dan organ.

Dokter juga akan merekomendasikan Anda untuk melakukan tes genetika agar mendapatkan gambaran mengenai kerusakan gen secara tepat. Tes lainnya yang mungkin Anda perlu jalani adalah elektromiografi (EMG) dan elektrokardiogram (EKG). EMG bertujuan untuk mengukur aktivitas listrik pada sel otot. Sementara itu, EKG memberikan gambaran tentang ritme jantung. Secara garis besar, diagnosis terhadap Ataksia Friedreich dilakukan secara bertahap.