Diet Bebas Gluten (Gluten-Free) untuk Dermatitis Herpetiformis

Diet Bebas Gluten (Gluten-Free) untuk Dermatitis Herpetiformis

Dermatitis herpetiformis adalah salah satu jenis masalah kulit berupa ruam dan sangat gatal. Ruam biasanya muncul sebagai kumpulan benjolan merah yang gatal dan melepuh berisi air. Ruam dan rasa gatal dapat terjadi di bagian tubuh mana saja, tetapi paling sering muncul di bokong, lutut, siku, punggung bawah, dan belakang leher. Untuk mendiagnosis seseorang apakah mengalami dermatitis herpetiformis atau tidak, kebanyakan dokter ahli kulit akan melakukan biopsi kulit untuk mencari antibodi spesifik terhadap gluten.

Umumnya, penderita dermatitis herpetiformis dapat memperoleh pertolongan jangka pendek dalam bentuk obat Dapson, yaitu antibiotik berbasis sulfur. Sayangnya, Dapson memiliki efek samping yang cukup serius apabila dikonsumsi dalam jangka panjang. Jadi, Anda tidak boleh mengonsumsi obat ini lebih lama dibandingkan waktu Anda menjalankan diet bebas gluten.

Diet bebas gluten mungkin tidaklah mudah

Diet bebas gluten merupakan satu-satunya pengobatan jangka panjang yang direkomendasikan untuk penderita dermatitis herpetiformis. Menerapkan diet ini juga dapat membantu mencegah kerusakan organ internal yang berkaitan dengan konsumsi makanan gluten.

Sayangnya, menjalani diet bebas gluten untuk memberantas dermatitis herpetiformis mungkin bukanlah hal yang mudah. Ruam dapat muncul dengan paparan gluten bahkan yang sangat sedikit sekalipun. Anda pun butuh waktu berhari-hari untuk meredakan ruamnya. Hal ini mungkin akan menyebabkan penderita dermatitis herpetiformis sulit menjalankannya, bahkan mungkin mengabaikannya sama sekali.

Melalui studi kohort pada tahun 2011 yang diterbitkan oleh JAMA Dermatology, dari 86 pasien dermatitis herpetiformis, hanya sekitar 40% pasien yang mengikuti diet bebas gluten, dan hanya 5 orang saja yang berhasil total mengurangi gejala dermatitis herpetiformis melalui diet bebas gluten.

Tips menjalankan diet bebas gluten untuk penderita dermatitis herpetiformis

Meskipun sulit, tetapi Anda tetap harus berusaha menjalankan diet bebas gluten untuk mengontrol dermatitis herpetiformis sepenuhnya. Anda juga dapat melibatkan seluruh keluarga Anda di rumah untuk mendukung keberhasilan diet ini.

Memang, hampir tidak mungkin rasanya menghindari cukup gluten untuk menghentikan reaksi ruam dan gatal yang muncul jika Anda tinggal di sebuah rumah di mana orang-orang di dalamnya adalah pemakan gluten. Namun, Anda dapat memastikannya dengan menghindari makanan yang mengandung gluten, seperti sereal, biskuit, muffins, roti, kue, pizza, atau makanan lainnya yang terbuat dari bahan tepung terigu. 

Adapun makanan yang bebas gluten dapat Anda peroleh dari daging dan ikan (pastikan tidak ada tambahan bahan glutennya), buah-buahan, serta sayur-sayuran. Anda juga dapat mengonsumsi makanan dengan klaim gluten-free, tetapi pastikan makanan tersebut tidak terkontaminasi dengan makanan lain yang mengandung gluten.

Saat Anda makan di luar, seperti restoran atau café, meskipun ada menu bebas glutennya, tetap berisiko terkena terkontaminasi silang. Maka dari itu, cobalah makan lebih jarang di luar dan sebaiknya mengonsumsi makanan di rumah jelas bebas glutennya.

Jika Anda menerapkan diet bebas gluten ini dengan baik dan disiplin, dermatitis herpetiformis Anda dapat segera membaik. 

Penyembuhannya butuh bertahun-tahun

Kenyataannya, tidak ada yang instan, termasuk dalam penyembuhan dermatitis herpetiformis. Mungkin Anda perlu waktu berbulan-bulan atau bertahun-tahun agar dapat mengontrol dermatitis herpetiformis dengan menerapkan diet bebas gluten dan menjadikannya sebagai sebuah kebiasaan. 

Namun, jika Anda sangat ketat dan disiplin menjalankannya, gejala dermatitis herpetiformis akan semakin berkurang dari waktu ke waktu. Akhirnya, Anda pun mungkin akan berhenti mengalami ruam, walaupun mungkin mungkin masih ada rasa gatal di beberapa bagian tubuh tertentu yang terkena. 

Ingatlah, paparan gluten yang besar dapat membuat dermatitis herpetiformis kambuh dan butuh waktu lebih lagi untuk menghilangkannya. 

Mengikuti diet bebas gluten bisa jadi hal yang sulit, terlebih lagi jika Anda mengikuti diet yang super ketat dengan tidak mengonsumsi banyak makanan meskipun mungkin, klaimnya sudah free-gluten. Namun, manfaatnya luar biasa dalam membantu menghentikan ruam dan rasa gatal yang muncul akibat dermatitis herpetiformis. Walaupun belum menyembuhkan secara total, setidaknya dengan menerapkan diet bebas gluten dapat mengurangi dosis atau mencegah efek samping serius dari obat yang Anda konsumsi.

Apakah Berbahaya Ketika Pembuluh Darah Mata Pecah?

Perdarahan subkonjungtiva terjadi ketika pembuluh darah kecil pecah tepat di bawah permukaan bening mata Anda (konjungtiva).   Anda mungkin tidak menyadari bahwa Anda mengalami pembuluh darah mata pecah sampai Anda melihat ke cermin.

Gejala yang paling jelas terlihat adalah bercak merah darah yang khas pada bagian putih mata Anda. Hal ini bisa terlihat cukup mengkhawatirkan dan mungkin menjadi lebih luas, jika Anda minum obat seperti aspirin atau warfarin yang mempengaruhi kemampuan darah untuk menggumpal, tetapi tidak ada yang perlu dikhawatirkan.

Anda tidak akan merasakan sakit apa pun dan kondisi ini tidak akan mempengaruhi penglihatan Anda. Namun, beberapa orang mungkin mengalami perasaan penuh pada mata atau sensasi berpasir ketika mengalami pembuluh darah mata pecah.

Apa penyebab pecahnya pembuluh darah di mata? Pembuluh darah yang pecah di mata Anda dapat terjadi secara spontan dan mungkin tidak selalu diketahui penyebab pastinya, tetapi beberapa penyebab perdarahan subkonjungtiva dapat mencakup hal-hal seperti:

  • Pengencangan, batuk, atau bersin
  • Cedera pada mata
  • Operasi mata

Dalam kebanyakan kasus, perdarahan subkonjungtiva tidak memerlukan pengobatan apapun karena biasanya akan hilang dengan sendirinya setelah beberapa minggu. Jika Anda merasakan iritasi terkait, tanyakan apoteker Anda tentang tetes mata pelembab yang bisa digunakan.

Jika pembuluh darah yang pecah disebabkan oleh cedera mata, Anda harus menemui dokter mata untuk memastikan tidak ada kerusakan lain pada mata. 

Saat Anda mengalami perdarahan subkonjungtiva berulang, Anda harus menemui dokter umum untuk menentukan penyebab yang mendasari, yang dapat mencakup tekanan darah tinggi atau pembekuan darah yang buruk.

Pembuluh darah mata pecah atau perdarahan subkonjungtiva, merupakan kondisi yang tidak berbahaya. Kondisi ini secara bertahap akan menjadi lebih ringan dan memudar setelah beberapa minggu. 

Pembuluh darah mata bisa pecah secara spontan, karena reaksi alami yang tidak dapat Anda kendalikan. Sebenarnya tidak ada yang bisa Anda lakukan untuk mencegah terjadinya kondisi ini. Namun jika Anda memiliki kekhawatiran pada kondisi mata Anda, segera kunjungi dokter.

Hati-hati, 7 Gejala ini Tandakan Kondisi Amyloidosis

Protein memang dibutuhkan tubuh dan berguna bagi kesehatan berbagai organ. Akan tetapi, penumpukan protein terlalu banyak di dalam tubuh justru bisa berbuah bencana, apalagi jika jenisnya termasuk protein abnormal yang kerap disebut amiloid. Kondisi penumpukan protein abnormal yang berlebihan ini kerap disebut amyloidosis dalam dunia medis.

Penumpukan protein abnormal ini tidak bisa dipandang remeh. Pasalnya, adanya penumpukan amiloid dapat memengaruhi kerja berbagai organ tubuh vital. Bahkan dalam kasus terburuk, organ-organ tempat amiloid menumpuk bisa mengalami kegagalan kerja. Beberapa organ vital yang kerap disambangi kondisi amyloidosis, seperti jantung, ginjal, serta hati.

Risiko terkena amyloidosis memang sulit untuk dihindari. Karena itu, sebaiknya sebelum kondisi penumpukan protein abnormal tersebut membuat organ-organ tubuh menjadi tidak berfungsi, penanganan medis mesti segera dilakukan. Ketika Anda menemui gejala-gejala ini dalam tubuh Anda, artinya sudah tiba waktunya mengonsultasikan diri ke dokter untuk mengecek apakah Anda mengalami penumpukan protein amiloid atau tidak.

  1. Memar Tanpa Sebab

Protein yang terlalu berlebih di dalam sebenarnya bisa dikenali gejala umumnya dari kondisi kulit Anda. Jika kulit Anda kerap mengalami memar tanpa sebab, artinya Anda harus berhati-hati sebab sangat mungkin Anda penumpukan protein abnormal pada tubuh. Umumnya, memar akibat protein berlebih kerap ditemukan di bagian dekat mata ataupun kulit sekitar bagian sendi.

  • Kesemutan

Jangan remehkan kondisi kesemutan sebab bisa jadi hal tersebut menunjukkan kondisi tubuh yang tidak sehat. Apalagi, rata-rata penderita amyloidosis kerap mengalami kesemutan sebagai gejala awal. Kesemutan yang biasanya dirasakan oleh penderita amyloidosis kerap terjadi di bagian ibu jari ataupun jari-jari tangan lainnya.

  • Pembengkakan Kaki

Gejala amyloidosis yang satu ini harus segera disikapi. Apabila Anda terlalu sering mengalami pembengkakan kaki, hampir dapat dipastikan ada masalah terkait jantung ataupun ginjal Anda. Protein abnormal menjadi salah satu sumber masalah di jantung dan ginjal yang jika dibiarkan dapat menjerumuskan Anda dalam kondisi gagal jantung ataupun gagal ginjal.

  • Tekanan Darah Rendah

Bukan hanya tekanan darah tinggi yang mesti diwaspadai. Ketika tekanan darah Anda selalu berada di batas rendah, Anda patut waspada. Masalahnya, salah satu gejala amyloidosis adalah kondisi tekanan darah rendah. Kondisi ini makin harus diwaspadai apabila Anda tadinya memiliki tekanan darah yang cenderung normal atau tinggi, namun mendadak dalam beberapa waktu menjadi memiliki masalah tekanan darah rendah.

  • Masalah Pencernaan

Masalah pencernaan bisa terjadi karena banyak sebab. Salah satu pemicunya adalah terlalu banyaknya protein yang menumpuk di saluran gastrointestinal. Ketika hal ini terjadi, Anda akan kerap mengalami masalah pencernaan, mulai dari rasa kembung, sembelit, juga diare parah. Tidak ada salahnya segera berobat ke dokter ketika merasa Anda terlalu sering mengalami masalah pencernaan.

  • Sesak Napas

Masalah pernapasan juga bisa menjadi salah satu ciri Anda mengidap amyloidosis. Gejala ini Anda akan alami ketika penumpukan protein abnormal sudah menyerang bagian jantung Anda. Pada saat itu terjadi, Anda akan kerap mengalami sesak napas.

  • Penurunan Berat Badan

Jangan langsung senang ketika berat badan Anda mengalami penurunan drastis, apalagi jika hal tersebut terjadi tanpa sebab. Anda tidak sedang diet atau olahraga ekstem, tetapi tiba-tiba mengalami penurunan berat badan artinya ada masalah di pencernaan Anda. Tidak menutup kemungkinan, saluran pencernaan Anda terkena amyloidosis sehingga mengalami kondisi tersebut.

Menyadari gejala amyloidosis lebih dini akan lebih baik. Dengan demikian, kemungkinan terburuk akibat adanya penumpukan protein abnormal di dalam tubuh yang bisa menyebabkan kegagalan organ vital bisa dicegah. Jadi, berhati-hatilah terhadap gejala aneh sekecil apapun di tubuh Anda.

Mengenal Lebih Jauh tentang Tiga Jenis Kondisi Mata Berdarah

Jika mendengar tentang mata berdarah, hal pertama kali yang mungkin Anda pikirkan adalah gangguan kesehatan yang cukup berbahaya. Kondisi ini ditandai dengan adanya urat-urat merah atau bercak merah yang terlihat jelas di permukaan mata Anda.

Mata berdarah adalah kondisi yang merujuk pada pecahnya pembuluh darah di dalam mata atau kerusakan pembuluh darah, sehingga menimbulkan warna merah pada permukaan mata.

Perlukah mengkhawatirkan kondisi mata berdarah?

Kondisi mata berdarah pada dasarnya termasuk salah satu kondisi masalah kesehatan mata yang cukup sering terjadi. Mungkin tanpa Anda sadari, Anda pernah mengalami mata berdarah, tanpa adanya gejala atau gangguan lain yang signifikan. Kebanyakan kasus mata berdarah dapat sembuh dengan sendirinya dan tergolong tidak membahayakan kesehatan.

Namun, dalam kasus tertentu, terdapat tiga jenis mata berdarah yang perlu Anda waspadai. Lebih jelasnya, mari simak informasi di bawah ini.

  • Hyphema: salah satu jenis mata berdarah yang jarang terjadi. Hyphema disebabkan ketika ada darah yang menumpuk di sekitar bulatan hitam mata (tepatnya di area iris dan pupil). Pendarahan ini kemungkinan besar terjadi karena ada luka pada kornea.

Kondisi ini berbeda dengan mata berdarah jenis pendarahan subconjunctival, yang mana darah pada kondisi hyphema cukup mengganggu penglihatan. Kondisi jenis mata berdarah ini juga disertai dengan rasa nyeri. Jika kondisi ini dibiarkan, maka hyphema dapat menyebabkan kehilangan penglihatan secara permanen. Dalam kasus tertentu, hyphema dapat muncul dalam ukuran kecil yang tidak terlihat kasat mata.

  • Pendarahan subconjunctival: jenis mata darah pendarahan subconjunctival atau subconjunctival hemorrhage tergolong sebagai jenis mata berdarah yang paling umum terjadi. Cirinya, terdapat bercak merah pada bagian putih mata.

Bagian putih yang disebut dengan conjunctival memiliki pembuluh darah halus yang tak kasat mata. Ketika pembuluh darah ini rusak, maka akan terdapat darah yang keluar dan mengakibatkan munculnya bercak merah pada mata.

Kondisi mata berdarah ini tidak berbahaya dan dapat sembuh sendiri dalam beberapa hari ke depan. Anda tidak perlu terlalu khawatir dengan kondisi mata berdarah jenis ini, karena sering kali tidak diikuti dengan rasa sakit.

  • Pendarahan di jaringan dalam: jenis mata berdarah ini merujuk pada kondisi adanya pendarahan pada jaringan dalam yang tidak terlihat dari bagian luar. Kemungkinan besar, pendarahan ini terjadi di bagian dalam atau belakang bola mata. Lokasi yang rawan terkena pendarahan dalam pada mata, yaitu bagian bawah retina, makula (bagian dari retina), dan cairan mata.

Gejala yang perlu diwaspadai dari mata berdarah jaringan dalam, yaitu kaburnya pandangan atau adanya warna kemerahan pada penglihatan, adanya bercak mengambang di penglihatan, melihat cahaya berkedip, sensitif terhadap cahaya, pembengkakan pada mata, dan adanya sensasi seperti tertekan di sekitar bola mata.

Memang, kebanyakan kondisi mata berdarah tidak berbahaya dan dapat hilang dengan sendirinya. Namun, jika kondisi mata berdarah ini diikuti dengan gejala tertentu, maka Anda perlu untuk memeriksakan kondisi mata Anda segera. Beberapa gejala yang perlu diwaspadai:

  • perih
  • nyeri
  • mata berair
  • adanya perubahan pada penglihatan Anda
  • adanya kilat cahaya atau partikel yang melayang dalam penglihatan Anda.

Kenali Gejala-Gejala Hernia Formal

Hernia adalah kondisi saat organ dalam tubuh terdorong dan mencuat keluar melewati otot serta jaringan ikat sekitarnya yang lemah. Jika hernia diamani oleh bagian dalam perut (seperti usus atau jaringan perut lainnya) yang terdorong dan melalui femoral canal (terowongan yang ada di selakangan dan dilewati oleh arteri, vena dan saraf femoral), kondisi ini disebut hernia femoral. Gejala penyakit ini bisa berupa tonjolan di dekat selangkangan atau paha. Hernia femoral termasuk jarang terjadi dan angka kejadiannya diperkirakan hanya 3 persen dari seluruh kasus hernia.

Gejala-gejala hernia femoral

Gejala hernia femoral tergantung dari ukuran dan tingkat keparahan hernia, simak penjelasan berikut ini:

  • Ukuran kecil hingga sedang

Hernia femoral berukuran kecil atau sedang biasanya tidak memiliki gejala. Tonjolan kulit pada hernia yang kecil juga kadang tidak terlihat, sehingga sering tidak disadari oleh penderitanya.

  • Ukuran besar

Pada hernia femoral berukuran besar, tonjolan di selangkangan terlihat dengan jelas dan memicu rasa ketidaknyamanan. Gejalanya akan semakin parah dan terasa nyeri ketika penderita berdiri atau mengangkat beban yang berat. Sakit pinggang juga bisa dialami oleh penderitanya.

Jika tonjolan kecil, sebagai besar hernia femoralis tidak menimbulkan gejala. Namun, kasus yang parah dapat menyebabkan mual, muntah, serta sakit perut.

Penyebab terjadinya hernia femoral

Penyebab dari hernia femoral belum diketahui secara pasti. Pasalnya, otot di area femoral canal bisa saja lemah sejak lahir atau menjadi lemah secara perlahan-lahan seiring dengan bertambahnya usia.

  • Mengejan secara berlebihan, misalnya ketika buang air besar atau saat melahirkan.
  • Mengalami sembelit jangka panjang (kronis).
  • Mengangkat beban yang terlalu berat.
  • Memiliki berat badan berlebih atau obesitas.
  • Mengalami kesulitan buang air kecil karena pembesaran prostat.
  • Pengaruh jenis kelamin. Wanita diperkirakan 10 kali lebih berisiko untuk mengalami hernia femoral dibanding pria. Pasalnya, ukuran panggul wanita lebih lebar daripada pria.
  • Pengaruh faktor usia. Hernia femoral lebih sering dialami oleh orang dewasa. Jika terjadi pada anak-anak, kondisi ini biasanya terjadi karena gangguan medis tertentu, seperti kelainan jaringan ikat.
  • Riwayat keluarga. Orang dengan anggota keluarga yang mengidap hernia di area selangkangan memiliki risiko 8 kali lebih besar untuk menderita penyakit yang sama.

Giardiasis

Giardiasis merupakan infeksi usus halus dimana gangguan tersebut disebabkan oleh parasit Giarda doudenalis. Parasit tersebut juga disebut sebagai Giardia lamblia atau Giardia intestinalis.

Giardiasis merupakan gangguan yang terjadi di sistem pencernaan karena adanya parasit. Giardiasis juga lebih sering muncul di negara-negara berkembang, terutama jika negara tersebut memiliki jumlah penduduk yang padat dan kurang menerapkan protokol kesehatan.

Gejala

Pada umumnya, giardiasis sama seperti virus Corona atau Covid-19 dimana masalah tersebut tidak selalu menimbulkan gejala, namun dapat menular orang lain. Jika seseorang mengalami gejala, gejala yang terjadi akan muncul dalam waktu 1 hingga 3 minggu setelah paparan parasit terjadi. Seseorang yang terkena giardiasis bisa mengalami gejala sebagai berikut:

  • Merasa lelah.
  • Kram di bagian perut.
  • Diare dengan tinja cair dan berbau busuk.
  • Perut kembung.
  • Mual.
  • Penurunan berat badan.
  • Cenderung mengeluarkan sendawa.

Penyebab

Giardiasis disebabkan oleh parasit Giardia lamblia. Parasit tersebut dapat ditemukan baik dalam kotoran hewan maupun manusia.

Selain itu, Giardia lamblia dapat tumbuh subur melalui makanan, air, dan tanah yang telah terkontaminasi. Parasit tersebut dibagi menjadi 2 bentuk, antara lain trofozoit (bentuk aktif) dan kista (bentuk tidak aktif).

Trofozoit akan menempel pada bagian dinding usus halus dan dapat memicu gejala giardiasis. Trofozoit juga tidak dapat bertahan dalam waktu yang lama ketika berada di luar tubuh manusia atau hewan, dan tidak dapat menular orang lain. Kista dapat bertahan dalam waktu yang lama ketika berada di luar tubuh manusia, dan dapat menular orang lain.

Ketika tertelan, kista akan berubah menjadi trofozoit dimana bentuk tersebut akan menimbulkan gejala di dalam tubuh. Ada berbagai cara agar parasit tersebut dapat masuk ke dalam tubuh manusia, salah satunya termasuk air yang terkontaminasi.

Air yang terkontaminasi biasanya dapat ditemukan di kolam renang, tempat spa, atau danau. Oleh karena itu, setiap orang sangat dihimbau untuk berhati-hati jika ingin menggunakan air, karena belum tentu airnya bersih.

Parasit tersebut juga dapat menyebar melalui makanan yang terkontaminasi atau jika makanan tersebut tidak berada dalam keadaan bersih.

Risiko

Seseorang bisa mengalami risiko yang lebih tinggi jika mereka:

  • Merupakan anak-anak, karena anak-anak lebih rentan terhadap parasit tersebut dibandingkan dengan orang dewasa.
  • Melakukan seks anal, dan lebih berisiko jika tidak menggunakan kondom.
  • Memiliki keterbatasan air bersih, terutama jika mereka tinggal di daerah yang padat penduduk dan kumuh.

Diagnosis

Jika Anda mengalami giardiasis, Anda sebaiknya periksa diri ke dokter. Dokter dapat membantu Anda dengan melakukan diagnosis terlebih dahulu. Diagnosis yang dilakukan meliputi:

  • Tanya jawab

Dokter akan menanyakan kepada Anda terkait dengan kondisi Anda.

  • Pemeriksaan fisik

Pemeriksaan fisik perlu dilakukan, khususnya di bagian perut Anda.

  • Pemeriksaan penunjang

Pemeriksaan penunjang juga dapat dilakukan dengan pemeriksaan sampel tinja, pengambilan dan pemeriksaan cairan, dan biopsi.

Pengobatan

Untuk mengobati giardiasis, berikut adalah jenis obat yang dapat digunakan:

  • Metronidazole.
  • Tinidazole.
  • Nitazoxanide.
  • Paromomycin.

Pencegahan

Selain pengobatan di atas, berikut adalah beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mencegah giardiasis:

  • Sering menjaga kebersihan seperti mencuci tangan secara rutin.
  • Berhati-hati jika ingin mengkonsumsi makanan atau minuman, apakah terkontaminasi atau tidak.
  • Hindari seks anal.

Berkonsultasi Dengan Dokter

Jika Anda mengalami gejala seperti di atas, Anda sebaiknya konsultasikan masalah ini dengan dokter. Sebelum Anda melakukannya, Anda sebaiknya persiapkan diri dengan beberapa hal di bawah:

  • Mencatat gejala yang Anda alami.
  • Mencatat riwayat medis (jika ada).
  • Mencatat obat yang Anda konsumsi.
  • Mencatat pertanyaan yang ingin diajukan ke dokter.

Ketika berkonsultasi, dokter akan menanyakan Anda terkait dengan kondisi Anda seperti:

  • Kapan gejala tersebut terjadi?
  • Apakah gejala tersebut membaik atau memburuk?
  • Apakah Anda menggunakan obat-obatan tertentu?

Kesimpulan

Giardiasis merupakan salah satu gangguan pada tubuh yang perlu diwaspadai. Oleh karena itu, Anda perlu menerapkan pola hidup yang bersih dan sehat dengan cara-cara yang dianjurkan di atas. Untuk informasi lebih lanjut mengenai giardiasis, Anda bisa tanyakan hal tersebut ke dokter.

Ini Perbedaan Batuk Rejan dan Batuk Biasa

Batuk Rejan pada Anak, Penyebab dan Cara Mengatasinya

Munculnya gangguan pernapasan pada umumnya membuat tubuh kerap menunjukkan respons sebagai bentuk pertahanan. Salah satunya batuk, fungsi dari batuk ini untuk membersihkan lendir atau faktor penyebab iritasi yang mengganggu, bisa itu batuk rejan dan batuk biasa. Kedua jenis batuk ini memiliki perbedaan yang cukup mendasar.

Batuk bisa menyerang seseorang tanpa diikuti gejala lain dan bahkan tidak mengindikasikan penyakit serius, bahkan bisa sembuh dengan sendirinya dalam beberapa waktu. Batuk ringan bisa diatasi dengan konsumsi obat sederhana dan bahkan bisa dibuat di rumah sendiri, misalnya kombinasi bahan ramuan air madu dan lemon.

Batuk Rejan dan Batuk Biasa

Tanpa disadari dengan cermat, batuk bisa menjadi gejala sebuah penyakit mulai dari yang umum hingga tergolong berat. Kondisi ini bisa disebabkan karena infeksi saluran pernapasan dan penyakit yang bersarang dalam jangka panjang atau juga dapat dikenal dengan sebutan penyakit kambuhan, seperti bronkitis dan asma, rhinitis alergi, paparan debu dan kebiasaan merokok.

Batuk juga merupakan tanda munculnya sebuah penyakit, kondisi ini dikenal dengan batuk jenis rejan atau pertusis. Jenis batuk ini terjadi karena adanya infeksi bakteri di paru-paru serta di saluran pernapasan. Buruknya lagi, penyakit yang diakibatkan batuk ini sangat mudah untuk menular ke orang lain dan mengancam nyawa seseorang.

  • Batuk Biasa

Secara umum jenis batuk dibedakan menjadi dua yakni berdahak dan tidak berdahak alias batuk kering. Batuk berdahak terjadi karena adanya peningkatan produksi lendir atau dahak yang terdapat di saluran tenggorokan, sementara itu batuk kering memiliki gejala batuk tanpa disertai dahak di tenggorokan.

Batuk kering memiliki ciri yang sangat khas, yakni munculnya rasa gatal yang teramat sangat dan mengganggu di tenggorokan. Gatal inilah yang menjadi pemicu munculnya batuk tersebut, kondisi ini biasa terjadi di tahap akhir seseorang yang terserang flu seperti pilek atau juga setelah seseorang terpapar bahan iritan.

Penyebab dari kondisi tersebut belum diketahui bahkan para dokter hanya akan menanyakan gejala dan kondisi fisik si penderita guna pemeriksaan secara keseluruhan. Dalam beberapa kasus yang terjadi, pemeriksaan lanjutan dibutuhkan dan tujuannya untuk mengetahui secara pasti apa penyebab munculnya kondisi tersebut.

  • Batuk Rejan

Batuk jenis ini memiliki ciri yang tersendiri dan bahkan cenderung berbeda dengan jenis lainnya, sangat terkenal dengan rentetan batuk yang muncul secara terus-menerus. Sebelum batuk si penderita akan melakukan tarikan napas yang cukup panjang lewat mulut, selain itu kondisi ini terjadi dalam waktu yang cukup lama yakni tiga bulan tanpa ada tanda-tanda membaik.

Seseorang bisa terserang batuk ini jika kekurangan oksigen dalam darah, jika tidak segera ditangani dengan benar dan tepat, kondisi tersebut dapat memicu timbulnya komplikasi. Perlu diwaspadai dengan sangat benar karena batuk ini bisa menyebar dengan sangat cepat dari orang satu ke lainnya melalui udara dan kontak fisik.

Dalam tingkat yang sudah sangat parah, seseorang yang mengidap batuk ini bisa mengalami kerusakan tulang rusuk yang diakibatkan batuk sangat keras. Pencegahan yang bisa dilakukan untuk mengatasi kondisi ini adalah dengan cara mendapatkan vaksin pencegah, yakni vaksin pertuis. Sementara itu, penularan rentan terjadi ketika penderita masih dalam gejala tahap awal.

Segera lakukan pemeriksaan ke dokter jika diketahui mengalami beberapa gejala awal batuk ini, penanganan yang tepat dan cepat bisa membuat seseorang terhindar dari risiko terberat batuk ini, selain itu juga bisa mencegah penularan ke orang lain.

Jumlah Pasien Terbaru yang Kena Virus Corona di Indonesia

Kasus virus corona di Indonesia pertama kali terdeteksi dan diumumkan Presiden Joko Widodo pada Senin (2/3/2020). Sejak pertama kali muncul hingga saat ini, kasus positif virus corona Indonesi terus bertambah dan nyaris mencapai angka 14 ribu pasien positif. Dengan jumlah angka kematian karena virus corona yang mendekati angka seribu.

Penambah kasus positif virus corona di Indonesia mulai melaju sejak awal April 2020 dengan jumlah per harinya mencapai 200 hingga 300 pasien baru yang terinfeksi virus ini. Bahkan, laju penambahan tersebut semakin bertambah dan mencapai angka 400 di pertengahan April. Meskipun jumlah pasien yang sembuh di Indonesia telah melampaui angka kematian.

Virus Corona Indonesia

Pada awal Mei 2020 pertambahan kasus positif masih melaju dengan cepat dan berada di kisaran 300 orang setiap harinya. Terbaru pada Jumat (8/5/2020) kasus positif bertambah mencapai 338 orang dan total keseluruhan pasien positif virus corona di Indonesia mencapai angka 13.645 kasus orang yang positif.

Sementara jumlah pasien virus corona yang sembuh di Indonesia telah mencapai angka 2.607 orang dengan pasien yang meninggal sudah mencapai angka 959 kasus kematian. Menurut juru bicara pemerintah untuk penanganan virus corona, Achmad Yurianto menyebut bahwa penambahan kasus positif sebanyak 533 pasien posifit COVID-19 dalam 24 jam terakhir di rumah sakit di Indonesia.

“Hasil positif, pemeriksaan positif dengan metode polymerase chain reaction (PCR) 13.543, sementara dengan TCM (tes cepat molukuler) sebanyak 102 orang, totalnya 13.645,” ucap Achmad Yurianto di Graha Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Ia juga menyebut bahwa dalam periode yang sama masih terdapat penambahan 113 pasien yang dinyatakan sembuh.

Asal Mula Virus Corona Indonesia

Kasus virus corona di Indonesia sempat disebut mengalami ‘kurva datar’ oleh Kepala Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19, Doni Monardo. Jakarta disebut masih mengalami penambahan pasien virus corona yang fluktuatif. Hal ini berdasar pada tambahan pasien positif sebanyak 142 orang yang dinyatakan positif terinfeksi pada Jumat (1/5/2020) dan menjadi yang tertinggi sejak April.

Jumlah kasus virus corona secara global terus bertambah hingga mencapai 3,7 juta sejak menembus angka tiga juta penderita pada akhir April 2020. Sementara itu, dalam skala global pasien yang meninggal karena virus ini sudah mencapai 2650.000, sesuai dengan data yang dirilis oleh Johns Hopkins University pada Jumat (8/5/2020).

Jika sebelumnya Indonesia dinyatakan sebagai salah satu negara yang belum terinfeksi, kasus pertama virus ini menginfeksi dua masyarakat yang diduga telah melakukan kontak fisik dengan Warga Negara Asing (WNA) asal Jepang. Hal ini langsung diungkapkan oleh Menteri Kesehatan Indonesia, Agus Terawan Putranto.

Bermula pada tanggal 14 Februari 2020, pasien terinfeksi virus corona bekerja sebagai guru dansa dan memiliki teman dekat yang berasal dari Jepang. Dua hari berselang, guru dansa tersebut mengalami batuk dan kemudian melakukan pemeriksaan di rumah sakit terdekat. Namun, pada saat itu pasien masih diperbolehkan untuk rawat jalan.

Meski demikian, penyakit yang dialami pasien tak kunjung sembuh, hingga pada 6 Februari 2020 ia kembali dirujuk ke rumah sakit dan diminta menjalani rawat inap. Pada saat itu, pasien tak haya mengalami batuk saja tetapi juga mulai disertai dengan sesak napas. Dua hari berselang, pasien ditelfon rekannya di Malaysia yang menyebut temannya asal Jepang positif virus corona.

Kenali Jenis dan Ciri-Ciri Tahi Lalat yang Berpotensi Menjadi Tanda Kanker

Tahi lalat biasanya menjadi penanda fisik yang terkadang juga menjadi tanda lahir seseorang. Tahi lalat ini terbentuk dari pertumbuhan sel penghasil warna kulit (melanosit) yang berkumpul pada satu titik di kulit tubuh. Pada kenyataannya, tahi lalat terbagi menjadi beberapa jenis, yaitu tahi lalat kongenital, tahi lalat biasa, dan tahi lalat atipikal.

Ketiga jenis tahi lalat tersebut masing-masing memiliki ciri-ciri yang berbeda. Tahi lalat dapat muncul sejak bayi sebagai bawaan tanda lahir atau baru muncul ketika seseorang beranjak dewasa. Mengenali jenis dan ciri-ciri tahi lalat dapat membantu Anda mewaspadai gejala penyakit tertentu, seperti kanker kulit.

  1. Tahi lalat kongenital

Tahi lalat jenis ini merupakan tahi lalat yang umumnya muncul pada kulit sebagai tanda lahir. Bentuk tahi lalat kongenital dapat berbeda-beda menurut ukuran, bentuk, dan juga warnanya. Walaupun begitu, ciri umum yang sering terlihat adalah bentuk tahi lalat ini cenderung kecil, bulat, dan rata dengan permukaan kulit atau sedikit timbul. Warnanya dapat berbeda-beda, mulai dari hitam, cokelat muda atau tua, dan merah.

Jika ukuran tahi lalat ini berkembang dan menjadi lebih besar, maka terdapat risiko atau kemungkinan bahwa tahi lalat ini akan menjadi berbahaya ketika masa dewasa nanti.

  • Tahi lalat biasa

Jenis tahi lalat ini dapat muncul sejak seseorang dilahirkan hingga berusia 20-an. Umumnya, seseorang dapat memiliki sebanyak 40 tahi lalat di seluruh tubuh. Ciri-ciri tahi lalat ini, antara lain berbentuk bulat atau oval, rata atau sedikit timbul pada permukaan kulit, memiliki permukaan yang halus atau kasar dan terkadang memiliki helai rambut, serta memiliki ukuran yang kecil dan cenderung tidak berubah.

Jika seseorang memiliki lebih dari 50 tahi lalat pada tubuhnya, ia memiliki risiko yang tinggi untuk terkena kanker kulit.

  • Tahi lalat atipikal

Tahi lalat atipikal ini memiliki penampakan dengan bentuk yang cenderung tidak beraturan. Maka dari itu, ia sering kali dianggap mengganggu penampilan karena penampakannya yang jelek. Tahi lalat ini memiliki ciri khusus yang dapat dikenali:

  • bentuknya yang cenderung tidak beraturan.
  • Memiliki permukaan yang kasar.
  • Ukurannya lebih besar dibanding jenis tahi lalat lain, umumnya lebih dari 6 milimeter.
  • Memiliki warna campuran, seperti cokelat dan merah.

Walaupun jenis tahi lalat ini jarang muncul di kulit wajah, ia memiliki risiko yang lebih besar untuk menjadi tahi lalat yang berbahaya. Kemunculan tahi lalat ini dapat meningkatkan risiko kanker kulit melanoma, terlebih jika terdapat adanya penderita kanker kulit dalam riwayat kesehatan keluarga Anda.

Kenali dan amati perubahan pada tahi lalat di kulit tubuh Anda, sehingga Anda dapat mewaspadai gejala-gejala dari penyakit tertentu.

Apa yang Harus Dilakukan Jika Terjadi Bronkitis Pada Anak?

Jika anak sedang sakit, sebagai orangtua tentu ingin agar anak segera sembuh. Apalagi saat mengalami batuk tanpa henti disertai dengan bronkitis pada anak. Biasanya kita akan mencari sesuatu yang untuk menghentikannya seperti dengan minum obat batuk. Namun, terkadang obat batuk memiliki efek samping seperti mengantuk pusing padahal sebenarnya terdapat beberapa cara lain yang dapat membantu si Kecil untuk merasa lebih baik dan tetap aman.

Gejala bronkitis pada anak

Ada beberapa gejala bronkitis pada anak yang biasa terjadi. Perlu diingat bahwa setiap anak tidak memiliki gejala yang sama. Berikut gejala tersebut:

  1. Hidung berair (umumnya sebelum batuk muncul)
  2. Tidak enak badan, ditandai dengan rewel dan kelelahan
  3. Menggigil dan kedinginan
  4. Demam ringan disertai sedikit demam dengan suhu badan mencapai lebih dari 37.5 Celsius
  5. Nyeri pada punggung dan otot yang menyebabkan rasa tidak nyaman pada anak
  6. Bersin
  7. Radang tenggorokan
  8. Batuk

Tips agar anak tetap nyaman selama sakit

Bronkitis pada anak tentunya dapat disembuhkan dan diatasi dengan beberapa cara, seperti:

  • Menghindari hal yang dapat mengganggu pernapasan

Menjauh dari zat-zat, seperti asap rokok, asap kimia, debu, dan polusi udara. Jangan biarkan anak terpapar asap rokok, baik di rumah atau di lingkungan luar.

  • Beristirahatlah dengan cukup

Istirahat sebanyak mungkin, terutama selama beberapa hari pertama. Jika anak bantuk di malam hari hingga terbangun, gunakanlah bantal tambahan untuk menopang kepalanya.

  • Minum dalam jumlah banyak

Ketika bronkitis, sangat penting untuk mengencerkan dahak sehingga pada batuk dan bernapas lebih mudah. Jika anak lebih tertarik pada makanan daripada minuman, Anda juga dapat menawarkan beberapa jenis makanan dengan kadar air yang tinggi untuk membantu menjaga mereka agar tetap terhidrasi.

  • Bernapas dengan menggunakan uap air

Ada cara lain untuk mengencerkan dahak agar dahak dapat dikeluarkan dari tubuh lebih cepat. Semangkuk uap dibuat dengan cara merebus air dalam ketel dan tuangkan air ke dalam mangkuk yang besar. Dekatkan kepala anak Anda ke uap air tersebut.