Alat-Alat untuk Pengukuran dan Pemeriksaan Antropometri

Bagi sebagian masyarakat Indonesia, pemahaman mengenai pemeriksaan antropometri masih terbilang menjadi bahan yang belum dikenal secara luas. Antropometri secara umum hanya digunakan untuk meneliti status gizi pada anak. Sesuai dengan Keputusan Menteri Kesehatan No 1995/MENKES/S/2010.

Dalam keputusan tersebut pengukuran ini mengikuti standar yang telah ditetapkan oleh WHO pada tahun 2005. Selain itu dijelaskan pula mengenai bagaimana tolok ukur yang digunakan dalam mengukur status gizi anak, yang perlu diketahui adalah antropometri tak hanya populer sebagai alat pengukur status gizi pada anak tetapi juga kontribusi lebih di bidang kesehatan.

Alat Pemeriksaan Antropometri

  1. Antropometer

Merupakan instrumen antropometri yang paling umum digunakan, fungsi alat ini adalah untuk mengukur dimensi tubuh manusia. Khususnya pada bagian tubuh yang berbentuk datar, alat ini terdiri dari beberapa batang yang bisa digunakan dan bentuknya memanjang vertikal. Selain itu, terdapat sliding block yang bisa dipindahkan ke atas dan ke bawah.

  1. Sliding Caliper

Instrumen kedua yang digunakan untuk pemeriksaan, merupakan caliper yang biasanya digunakan pada alat-alat. Teknik yang kerap kali dilihat, meski demikian sliding caliper yang digunakan untuk pengukuran ini telah disesuaikan dengan khusus sehingga presisi pengukuran dan keamanannya dapat lebih bisa terjaga.

  1. Small Spreading Caliper

Alat ukur antropometri ini memiliki jenis yang sama dengan caliper, namun dari ujung caliper ini berbentuk setengah lingkaran. Fungsinya berbanding terbalik dengan antropometri, yakni mengukur dimensi tubuh yang tidak berbentuk lurus. Bagian yang diukur menggunakan alat ini di antaranya seperti kepala, lengan, pinggul, kaki dan lainnya.

  1. Large Spreading Caliper

Alat terakhir adalah spreading caliper, bentuknya sama dengan small sporeading caliper yang membedakan hanya instrumen ini terletak pada pengukuran yang dua kali lipat lebih besar. Alat ini bisa digunakan sebagai pelvimeter, meskipun fungsinya untuk mengukur bagian tertentu dari tubuh manusia.

Manfaat Kesehatan

Menurut CDC (Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit) di Amerika Serikat, antropometri merupakan pengukuran dimensi tulang dan jaringan adiposa (lemak) pada bayi yang baru lahir. Pemeriksaan ini juga termasuk pemantauan berat badan dan panjang badan bayi, bentuk dan ukuran lingkar kepala hingga penampakan leher, mata, hidung hingga telinga bayi.

  1. Indeks Berat Badan Menurut Umur (BB/U)

Kategori ini digunakan untuk menentukan kategori bayi atau anak yang memiliki berat badan sangat kurang, berat badan kurang, berat badan normal dan risiko berat badan lebih. Berat badan bayi yang baru lahir adalah saat nilai Z-score pada pengukuran antropometri berada pada -2 SD sampai dengan +1 SD.

  1. Indeks Panjang Badan atau Tinggi Badan

Untuk menentukan kategori bayi atau anak yang sangat pendek (stunting), pendek, normal dan tinggi, untuk panjang normal bayi yang baru lahir dan tingginya dikatakan idela jika Z-score pada pengukuran berada pada -2SD sampai dengan +3SD. Tinggi rata-rata bayi yang baru lahir berkisar 49,9 cm untuk laki-laki dan untuk perempuan 49,1 cm.

  1. Indeks Berat Badan dan Massa Tubuh

Pemeriksaan antropometri pada kategori ini digunakan untuk menentukan bayi atau anak yang mengalami gizi buruk, kurang, baik, berlebih hingga obesitas. Bayi atau anak bisa dikatakan memiliki gizi baik atau normal jika hasil dalam pengukuran Z-score menunjukkan pada angka kisaran -2SD sampai +1SD.

  1. Lingkar Kepala

Dalam pengukuran ini lingkar kepala bayi juga ikut di pantai, lingkar kepala yang normal atau cukup adalah 35 cm. Biasanya pertambahan besar lingkar kepala bayi laki-laki lebih besar 1 cm ketimbang bayi perempuan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *